Siapa yang tak kenal mall? Tempat ini terlihat begitu familiar dengan masyarakat perkotaan. Bangunan ini bagaikan oksigen yang kita hirup sehari-hari; tak bisa kita hidup tanpanya. Ketika seorang yang berasal dari kota besar harus pindah ke kota yang lebih kecil, hal pertama yang lazim ia rindukan adalah keberadaan mall. Begitu lekatnya dengan masyarakat kota, tempat ini begitu menggiurkan. Bagaimana tidak? Mall mewujudkan dirinya sebagai sinterklas yang baik hati; menawarkan berbagai macam jenis hiburan (one-stop entertaining), serta pelampiasan hasrat hedonistik atas kelelahan masyarakat kota saat berkompetisi dengan sesamanya melalui rutinitas yang ia hadapi sehari-hari dengan berbagai macam kenikmatan tiada tara; wahana hiburan yang tak pernah habis. Di lain sisi, mall merupakan feses alias kotoran yang terdefekasi dari pencernaan makna ruang kota, sekaligus buangan atas sampah-sampah kompetisi ruang publik perkotaan. Read more