Tenggorokan saya tercekat. Lalu air mata yang sedari tadi saya tahan akhirnya menetes juga, saat saya menonton sebuah acara reality show di sebuah TV swasta yang menayangkan sosok Pak Mahmud, seorang guru honorer di sebuah sekolah swasta yang sekaligus merangkap sebagai kepala sekolah di sekolah tersebut. Presenter acara TV tersebut mendapatinya sedang mengais sampah di sebuah tempat pembuangan akhir. Dengan mimik muka yang lugu, Pak Mahmud mencurahkan kepayahannya dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tiga anaknya terpaksa tidak dapat menikmati layanan pendidikan sebagaimana mestinya karena ketiadaan biaya. Sangat lekat dalam ingatan saya, saat Pak Mahmud dengan lantang menyatakan, “Saya harap pemerintah mau memperhatikan nasib guru yang berada di tempat terpencil, tidak hanya yang di kota besar saja. Karena ketulusan dan keikhlasan mereka untuk mencerdaskan anak bangsa seharusnya diimbangi dengan perbaikan nasib.”
Entah ada berapa Pak Mahmud lainnya di seluruh penjuru negara ini…