Bebaskan Pendidikan dari Ketertindasan!

Tenggorokan saya tercekat. Lalu air mata yang sedari tadi saya tahan akhirnya menetes juga, saat saya menonton sebuah acara reality show di sebuah TV swasta yang menayangkan sosok Pak Mahmud, seorang guru honorer di sebuah sekolah swasta yang sekaligus merangkap sebagai kepala sekolah di sekolah tersebut. Presenter acara TV tersebut mendapatinya sedang mengais sampah di sebuah tempat pembuangan akhir. Dengan mimik muka yang lugu, Pak Mahmud mencurahkan kepayahannya dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tiga anaknya terpaksa tidak dapat menikmati layanan pendidikan sebagaimana mestinya karena ketiadaan biaya. Sangat lekat dalam ingatan saya, saat Pak Mahmud dengan lantang menyatakan, “Saya harap pemerintah mau memperhatikan nasib guru yang berada di tempat terpencil, tidak hanya yang di kota besar saja. Karena ketulusan dan keikhlasan mereka untuk mencerdaskan anak bangsa seharusnya diimbangi dengan perbaikan nasib.”

Entah ada berapa Pak Mahmud lainnya di seluruh penjuru negara ini…

Read more

Kepada Yang Terhormat, Bapak Mendiknas…

Di hari pertamanya menjabat sebagai Mendiknas, Muhammad Nuh, mantan Rektor ITS dan Menkominfo, mampu membuat publik terhenyak atas pernyatannya tentang rencana kerja yang akan dilakukannya selama menduduki jabatan Mendiknas. Ujian nasional, yang selama ini dipakai sebagai penentu nasib siswa akan kelulusannya di sekolah menengah atas, akan diperluas fungsinya sebagai “modal utama” untuk memasuki “ring tinju” kompetisi perebutan kursi di perguruan tinggi. “Kalau bisa dipermudah menjadi hanya sekali tes, mengapa harus dua kali?”, begitu penyataan bapak Menteri. Read more

Sisi Praktis Psikologi Sosial : Antara Realitas dan Imaji

Review dari Artikel “Social Psychology in the Practical Domain, Karya Piero Amerio”

Ilmu seharusnya disadari sebagai buah dari hakikat luhur kemanusiaan yang merupakan anugerah luar biasa dari Sang Pencipta. Ilmu merupakan representasi entitas metafisis manusia, hasil perenungan-perenungan yang mendalam atas ciptaan Yang Maha Kuasa. Untuk bisa menghargai hakikat ilmu sebagaimana seharusnya, sesungguhnya kita harus mengerti bagaimana hakikat ilmu itu sebenarnya. Mengutip sebuah peribahasa prancis yang sangat populer, “mengerti berarti memaafkan segalanya,” maka pengertian yang mendalam tentang hakikat ilmu, bukan saja akan mengikatkan apresiasi kita terhadap suatu ilmu namun juga membuka wawasan kita terhadap berbagai kekurangan dan kritik yang menyertainya. Read more

Mall, Feses Pencernaan Ruang Publik Perkotaan

Siapa yang tak kenal mall? Tempat ini terlihat begitu familiar dengan masyarakat perkotaan. Bangunan ini bagaikan oksigen yang kita hirup sehari-hari; tak bisa kita hidup tanpanya. Ketika seorang yang berasal dari kota besar harus pindah ke kota yang lebih kecil, hal pertama yang lazim ia rindukan adalah keberadaan mall. Begitu lekatnya dengan masyarakat kota, tempat ini begitu menggiurkan. Bagaimana tidak? Mall mewujudkan dirinya sebagai sinterklas yang baik hati; menawarkan berbagai macam jenis hiburan (one-stop entertaining), serta pelampiasan hasrat hedonistik atas kelelahan masyarakat kota saat berkompetisi dengan sesamanya melalui rutinitas yang ia hadapi sehari-hari dengan berbagai macam kenikmatan tiada tara; wahana hiburan yang tak pernah habis. Di lain sisi, mall merupakan feses alias kotoran yang terdefekasi dari pencernaan makna ruang kota, sekaligus buangan atas sampah-sampah kompetisi ruang publik perkotaan. Read more

Dewan Perwakilan Rakyat dan Kontaminasi Ruang Publik

Publik kembali terhenyak heran atas fenomena-fenomena ganjil di ruang sidang gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Senayan. Sidang Paripurna yang niscayanya diadakan untuk membahas agenda mengenai penegakan diagnosis serta penegasan sikap DPR RI mengenai fakta-fakta yang ditemukan oleh Pansus Angket Century malah menyisakan segurat luka pada wajah muram perpolitikan Indonesia. Alih-alih menemukan solusi terbaik, sidang tersebut justru malah diwarnai kericuhan disana-sini. Marzuki Alie, pimpinan DPR melakukan manuver mengejutkan dengan mengetukkan palu, tanda sidang ditutup, ditengah-tengah kericuhan. Manuver berbahaya ini nyatanya melahirkan konflik politik baru, yang semakin melengkapi fenomenologi negatif politik Indonesia selama beberapa bulan terakhir ini. Read more