Suatu saat, hati nurani bertanya pada seorang mahasiswa fakultas sosial yang duduk di bawah pohon di pojokan kampusnya, di siang bolong yang panas.
“mengapa diam saja?”
“memangnya untuk apa aku berbuat?”
“bodohnya dirimu, tak ada otakkah kau? Tak lihat kondisi dunia yang morat-marit beberapa abad terakhir ini? Tak inginkah kau melakukan sesuatu yang berarti?”
“berarti untuk siapa? Ah..tak perlulah sok idealis begitu. Di era kapitalis begini, mana ada orang yang mau memikirkan sesuatu selain dirinya sendiri?”
“seandainya semua mahasiswa berpikiran picik seperti dirimu, tak akan selamat negeri ini. Jurang kehancuran sudah pasti di depan mata”
“sepertinya, aku tak peduli. Toh, pasti ada satu-dua orang yang mungkin tak sependapat denganku, yang masih mau membuang waktunya untuk pekerjaan yang melelahkan dan tak ada gunanya, at least untuk dirinya sendiri. Lagipula, aku kuliah bukan untuk menghabiskan waktuku untuk kegiatan percuma semacam itu. Aku ingin segera lulus dan bekerja, punya istri yang cantik, punya anak-anak yang manis, dan uang yang banyak…”
“lalu orang-orang bernasib malang disekitarmu? Apa kau tega membiarkan mereka membusuk karena ketidak berdayaan mereka?”
“tetap tak peduli, dan itu bukan salahku. Itu salah mereka sendiri.”
“cih..tak punya hati nuranikah kau?”
“lha? Lalu siapa yang sekarang sedang kuajak bicara? Hahahahahaha…”
Tak lama, ia berdiri. Kehausan. Mencarilah ia warung di dekat-dekat situ. Ingin sekedar berlindung dari panas matahari yang kian terik, ingin bersembunyi dari cecaran hati nuraninya sendiri.
“Shalatlah, sudah masuk waktu Dhuhur”
“Shalat? Apa kau gila? Memangnya siapa yang akan kusembah?”
“Allah Tuhan Yang Maha Tinggi, lupakah kau dengan penciptamu? Dasar manusia bodoh yang tak tahu diri!”
“alaaahhh..diam kau! Memangnya Tuhan seperti apa yang harus kusembah? Tuhannya Marx? Atau Tuhannya Adam Smith? Tuhannya kaum Babilon, Mesir Kuno, atau orang Yahudi? Atau malah aku harus menyembah diriku sendiri, seperti anjuran penganut eksistensialis? Bukan aku yang gila, tapi KAU. Tuhan ada banyak macamnya, aku bingung mana yang harus kusembah. Salahkah?”
“Salah. Jelas salah. Sekarang coba kau pikir, mungkinkah dunia dan seluruh isinya ini tercipta dengan sendirinya? Ojo ngarang dul, mbok pikir sulapan ta? PIKIRKAN! Bahkan seorang ilmuwan biologi yang evolusionispun tak sanggup menjelaskan asal-usul dunia apabila memakai mantra KEBETULAN! Bahkan sebuah sel hidup memiliki struktur yang rumit dan tak mampu ditiru oleh manuisia! kamu tahu? Analogi dari terciptanya sebuah sel hidup dari kumpulan benda mati dan mantra kebetulan adalah, sebuah pesawat boeing 737 yang terbentuk dari kumpulan sampah yang diterpa gulungan tornado. INI HANYA SEBUAH SEL, bagaimana dengan menciptakan manusia dengan kumpulan 3 MILYAR SEL?? Dengan memakai akal yang selalu kau banggakan, MUNGKINKAH? Ia adalah realitas diluar realitas. Mungkinkah meja ada tanpa tukang kayu yang membuatnya?”
“bodoh, kata Freud, manusialah yang menciptakan Tuhan. Tuhan ada karena ketidak berdayaan manusia menangani hidupnya”
“SEKALI LAGI pikirkan! Mungkinkah ada meja tanpa ada tukang kayu yang membuatnya? Apa pantas apabila meja mengaku-ngaku sebagai si mahakuasa yang menciptakan tukang kayu? LEBIH substantif yang mana? Dasar bodoh, berpikir benarpun kau tak mampu, padahal gelarmu mentereng. Membuat orang yang tak berduit merasa pahit : MAHASISWA!”
Pemuda itu tiba-tiba mengeratkan tali ranselnya, urung pergi ke warung. Memutar jalan ia akhirnya. Bersiap menuju masjid terdekat.
“lalu mengapa tiba-tiba kau berubah pikiran?”
“kupikir, kau ada benarnya”
Hati nurani mendesah, gelisah pikirannya. Tak habis dirinya menghitung, berapa banyak pemuda yang tercerabut hati nuraninya. Yang terlilit oleh kepandaiannya sendiri. Ironis! Kemajuan peradaban malah membuat pelakunya semakin dicengkeram keegoisan dan kebobrokan moral. Berapa banyak lagi. Ia tak sanggup menghitung.