You are currently browsing the category archive for the 'psikologi' category.

aku berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai ketenangan untuk menerima hal-hal yang tak dapat kuubah,
keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah,
dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan diantara keduanya
*Albert Camus

Sejarah Eropa yang terkenal kelam, tak dinyana malah melahirkan banyak pemikir (yang diakui) cerdas dan banyak berpengaruh pada hegemoni intelektual. Tentunya hal ini menjadi tanda tanya besar bagi kaum non-eropa. Apakah bangsa Asia kurang cerdas? Apakah orang orang Afrika semuanya bodoh? Ataukah orang (asli) Amerika tidak memiliki kapasitas intelektual yang tinggi? Sebenarnya, orang-orang timur patut berbangga. Kaum Rasionalis Barat yang selalu dipuja-puja karena “kerasionalannya” ternyata bisa tidak rasional juga. Namun sebaliknya, orang orang bijak dari timur yang biasanya diejek karena keirasionalannya, malah bisa berdalih, “Siapa bilang hanya saya yang nggak rasional. Orang barat juga bisa tuh..”
Mengapa?
Mari kita tengok kembali masa 1960an. Masa dimana seorang irasional bernama Abraham Maslow dan Carl Rogers yang tiba-tiba (secara irasional) mencoba mendobrak kemapanan yang bernama Psikologi Materialisme, yang telah bercokol dan menduduki tahtanya selama berpuluh-puluh tahun di barat.
Kaum Kaukasian Eropa, seperti yang tak diduga banyak orang, sebenarnya berangkat dari mistisme. Yang juga (sebenarnya) sempat hidup ‘damai’ dalam naungan spiritualitas dogmatis Gereja Katolik, yang namun pada akhirnya, Gereja Katolik kehilangan kewibawaannya karena dianggap sebagai oknum yang paling bertanggung jawab atas kehancuran bangsa Eropa, dan menjerumuskannya dalam Abad Kegelapan. Orang-orang Eropa sempat hidup beratus-ratus tahun dengan kebiasaan-kebiasaan Okultisme, tradisi Kabbalah (yang banyak muncul di daerah Prancis Selatan), bahkan kajian-kajian Esoteris yang seakan-akan dianggap tabu (karena bentrok dengan budaya positivistik) ternyata banyak menarik perhatian pemikir barat. Salah satunya adalah Carlos Castaneda. Seorang mahasiswa program postgraduate Antropologi UCLA yang menulis tesis tentang ilmu gaib dan perdukunan, yang sempat ‘dinobatkan’ menjadi Tuhan oleh pemuja fanatiknya. Namun konyolnya, tiga buku yang ia tulis sebagai follow up dari tesis yang ditulisnya, malah menjadi buku teks mahasiswa Antropologi di berbagai universitas di Amerika Serikat (Graham, 2005:63).

esoterisme eropa=kabbalisme?

esoterisme eropa=kabbalisme?

Ajaibnya, pada tahun 1700an, muncullah seorang filsuf yang ‘petenteng-petenteng’ ingin memurnikan ajaran-ajaran filsafat yang selama ini bergelut dengan metafisika. Ia adalah Henry Saint-Simon dengan seorang muridnya yang fanatik, Auguste Comte. Dengan berapi api, mereka seakan ingin berteriak kepada seluruh penjuru dunia, bahwa tak ada ilmu pengetahuan tanpa observasi dan operasionalisasi. Auguste Comte juga kembali menegaskan pernyataan gurunya dengan berpendapat bahwa ilmu pengetahuan harus seluruhnya dimurnikan dari kajian-kajian metafisika dan teologis yang dianggapnya ‘tidak ada’ dan ‘tidak nyata’. Dengan demikian, berhasillah mereka menancapkan paham materialisme didalam benak para ilmuwan di seluruh dunia. Bahkan dapat kita rasakan dampaknya hingga saat ini…
Psikologi modern, mau tak mau, tetap terkena imbasnya. Kemunculan mahzab Behaviorisme di Rusia dan Amerika sebagai contohnya. Kemudian dilanjutkan pula dengan mahzab Psikoanalisa (walaupun sempat diperdebatkan banyak pihak, ilmiah atau tidak ilmiah). Kedua aliran ini pada dasarnya sama, memandang manusia dari kacamata patologis serta pandangan pesimisnya terhadap eksistensi manusia.
Namun akhirnya, dua psikolog asal Amerika Serikat, yakni Abraham Maslow dan Carl R. Rogers, tiba-tiba saja menentang (bahkan mengecam) kedua aliran yang telah sebelumnya mapan ini. Mereka berpendapat, pandangan Psikoanalisa dan Behaviorisme terhadap manusia amat deterministik dan mengurangi nilai eksistensi manusia sebagai makhluk yang paling sempurna penciptaannya. Pemikiran ini bertindak lanjut pada berdirinya suatu mahzab baru yang dinamai Psikologi Humanistik. Awal mula berdirinya pemikiran humanistik pada masa pra Positivisme sebenarnya dari filsafat aliran orientasi humanistik yang dimotori oleh Anaxagoras (488-428 SM) dan Socrates (470-399 SM). Keduanya bersepakat menempatkan manusia sebagai ‘level tertinggi’ daripada aspek kehidupan yang lain, serta menegaskan bahwa karakter yang dimiliki oleh seorang manusia membuatnya berbeda dengan manusia yang lain (aspek keunikan manusia).
Lalu dilanjutkan kembali oleh pemahaman Voluntarisme yang digaungkan oleh St Agustinus, yang intinya, manusia berhak memutuskan will atau kehendaknya sendiri. Namun, seperti yang telah dibahas sebelumnya, filsafat positivistik seakan ‘membunuh’ pemikiran humanistik. Hal ini ditandai dengan munculnya gerakan psikologi materialisme yang ditabuh oleh John B. Watson (behaviorisme) dan Psikoanalisa yang digawangi oleh Sigmund Freud, yang akhirnya mengusai jagad Psikologi hingga puluhan tahun. Segala macam gerakan yang memfokuskan diri pada aktivitas mental yang cenderung humanis dan antroposentris pasti tidak akan berkembang. Salah satu korbannya adalah gerakan Gestalt yang dimotori oleh Max Wertheimer, yang sempat ‘dijual’ di Amerika namun ‘tidak laku’ karena ‘kalah laku’ dengan aliran Behavioristik yang sudah lebih dulu berkembang di Amerika. Apalagi saat itu, publik Amerika sedang ‘mabuk kepayang’ dengan positivisme radikal Skinner. Namun, pasca Perang Dunia ke II dan Perang Dingin antara 2 negara adidaya saat itu, warga dunia yang mulai lelah dengan perang menginginkan adanya suatu perubahan yang signifikan pada segala bidang kehidupan, tak terkecuali Psikologi yang juga terkena imbasnya. Apalagi saat itu, ada tendensi kembali ‘ngetrennya’ filsafat Epicureanisme, yang memahami hidup sebagai ‘yang terjadi pada saat ini’ dan cenderung hedonis. Sehingga, tidak sedikit yang berpendapat bahwa sistem-sistem tradisional pada masyarakat barat sudah seharusnya ditinggalkan karena sudah ketinggalan zaman. Akibatnya, banyak standar moral mulai diturunkan dan sistem-sistem pendidikan mulai ditinggalkan (Naranjo dalam Graham, 2005:53)
Lalu muncullah suatu gebrakan baru dalam filsafat yang bernama Eksistensialisme yang dimotori oleh beberapa filsuf. Diantaranya adalah Kierkegaard, Hegel, Marx, Nietzche, Heiddeger, dan Satre, yang intinya mencoba mengambil situasi eksistensial manusia sebagai titik tolak kehidupan. Dan menegaskan bahwa tidak ada alam yang sebanding dengan alam subyektivitas manusia.

Pelopor Humanisme Eropa

Pelopor Humanisme Eropa

Psikologi Humanistik didasari keyakinan bahwa manusia adalah wujud yang tunggal yang tiada bandingannya. Sesuai karakteristik inilah terapi yang harus dilakukan para psikolog dan psikater kepada manusia. Kaum humanis meyakini bahwa setiap individu bertanggung jawab atas kehidupan dan perbuatannya, dan bahwa dalam setiap zaman manusia bisa mengubah pendapat dan perilakunya melalui pengetahuan dan kehendak yang inovatif. Para psikolog humanis menaruh minat kepada perkembangan individual yang paling sempurna dalam berbagai wilayah kecintaan, perbuatan, penilaian diri sendiri (self worth), dan kemerdekaan mentalitas. Menurut perspektif ini, pertumbuhan dan kematangan dipandang sebagai proses dimana pribadi seseorang terbentuk dan akan mengikuti tatanan nilai-nilainya sendiri.
Pada dasarnya, inti-inti ajaran dan metode yang digunakan psikolog humanistik, banyak terpengaruh dari filsafat ketimuran (yang sering dinilai tidak rasional oleh orang barat), filsafat eksistensialisme (yang begitu ‘narsis’ dengan ‘kemanusiaannya’), gaya hidup hedonis yang banyak berkembang pada tahun 1960an, dan kekecewaan banyak psikolog dengan ‘kebutaan psikologi barat’ yang seakan-akan ‘memesinkan manusia’. Pergerakan Psikologi Humanistik sebagai mahzab ketiga ternyata berhasil ‘mendudukkan’ kodrat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna penciptaannya, namun gagal menjelaskan kodrat manusia sebagai makhluk yang hina (bahkan kadang-kadang lebih hina daripada binatang sekalipun. Contohnya, munculnya perilaku disorientasi seksual, serta perilaku-perilaku agresif yang ekstrim, seperti membunuh, mencuri, dan lain-lain).
Sehingga dapat penulis simpulkan bahwa mahzab humanistik bukanlah penjelasan yang terbaik mengenai manusia, namun Psikologi Humanistik telah berhasil melengkapi penjelasan Psikoanalisa dan Behaviorisme yang telah ada dan mapan terlebih dahulu.

sudah ada

  • 1,635 orang yang jalan2 ke blog ini

Tweets Saya..

  • Knp ga? RT @igaigiigo: Merasa rendah, lebih rendah dari kurcaci tengil mungil 5 hours ago
  • Mati aku :'( 11 hours ago
  • memikirkan tugas takehome psikologi perkotaan yang blm tersentuh sama sekali :( 1 week ago
  • baby if its true, you dont love me anymore, i wont stand up for this loveee.. yeahhh yeahh.. 2 weeks ago
  • yaampun mbak, ini pertanda dy mau ngelamar kamu jadi istri kedua.. :D RT @dindone: mimpiin PAK CHUS!! ohh my ***! 2 weeks ago
  • kata sapa beb? :p RT @apidyatamara: Dear psydojoe,, ujian kontes besok berupa essay 5 soal .. 2 weeks ago

postingan paling top!

  • None