Posted on

Pendidikan yang Membebaskan Ala Paulo Freire

Bagi kami, jelas harus ada jaminan terhadap hak anak-anak dari kelas bawah, sesuai dengan tingkat usia mereka, untuk mendapat informasi dan dididik selaras dengan kemajuan ilmu pengetahuan (Freire, 2003)

Pendidikan akan selalu berkaitan dengan manusia, sehingga sulit menafikkan pemahaman atas kemanusiaan itu sendiri dalam bangunan filosofis, teoritik, sampai pada pelaksanaan pendidikan pada umumnya. Pendidikan tidak seharusnya mencibir ide-ide tentang humanisasi dalam pelaksanaannya, ia bukan sekedar alat untuk melanggengkan tradisi intelektualitas manusia, namun ia berperan penting sebagai sarana bagi manusia untuk memaknai kondisi aktualnya.

Pendidikan itu seharusnya dinamis, kontekstual, dan tanpa kelas dan diskriminasi, begitu pendapat Paulo Freire, seorang begawan pendidikan asal Brazil yang terkenal dengan ide-ide revolusionernya. Baginya, pendidikan seharusnya mampu membebaskan. Membebaskan kaum-kaum yang tertindas, dan kaum-kaum penindas dari sistem pendidikan yang menindas (Smith, 2008). Kriteria evaluasi yang diterapkan di banyak sekolah untuk mengukur dan mengambil keputusan dalam konteks akademis, seperti intelektualitas, formalitas, dan keharusan untuk membaca banyak literatur, nyatanya memang sangat membantu mereka yang berasal dari kelas-kelas sosial khusus, dan sekaligus merugikan anak-anak yang berasal dari latar belakang sosio-ekonomi yang kurang mampu.

 

Bebaskan Manusia!

Adalah suatu hal yang konyol manakala suatu rangkaian alat tes dalam suatu sistem pendidikan populis, memvonis seorang anak dari keluarga miskin sebagai anak yang “tidak memiliki” kemampuan untuk berhitung, sedangkan sehari-harinya ia menjadi pedagang asongan yang memiliki tingkat kecepatan yang tinggi dalam menghitung uang kembalian ketika melakukan transaksi perdagangan. Inilah akibat nyata dari sistem pendidikan yang menindas.

Sistem pendidikan yang menindas, diartikan sebagai pelanggeng hegemoni kaum-kaum dari kelompok sosial tertentu untuk menindas kaum-kaum dari kelompok sosial lainnya. Menindas juga dapat diartikan menafikkan ide-ide tentang kemanusiaaan. Oleh karena itu, Freire begitu bergairah untuk menggagas ide tentang bagaimana membangun sebuah sistem pendidikan yang progresif, bukan populis secara demagogis (yang menolak elitisme tetapi anehnya tidak memarahi siswa-siswa yang bisa makan enak dan berpakaian bagus) sebagai jawaban atas kegelisahannya atas kebangkrutan pendidikan di Brazil, pada masa itu. Ia menginginkan sebuah sistem persekolahan negeri yang benar-benar kontekstual : sistem yang menghargai cara hidup siswa-siswanya, pola-pola kelas dan budayanya, nilai yang mereka anut, serta pengetahuan dan bahasa mereka. Sebuah sistem pendidikan yang proporsional, yang tidak menilai potensi intelektual anak-anak dari kelas miskin dengan alat evaluasi yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kaya, yang jelas jauh lebih beruntung daripada mereka (Freire, 2003).

Sistem inilah yang diidamkan Freire sebagai sistem pendidikan pembebas penindasan. Namun yang perlu diingat, sistem ini bukan berarti melakukan diskriminasi balasan kepada orang-orang berada, dan sebaliknya, sistem ini juga sangat antipati terhadap penolakan dan pengabaian atas siswa-siswa yang berasal dari kalangan miskin. Namun sistem ini diharapkan mampu mentransformasikan ruang, dimana anak-anak, baik yang kaya maupun yang miskin, dapat belajar, berkembang, bertanya, berkreasi dan memahami kehidupan secara bersamaan (Freire, 2003).

 

Conscientizacao

…dehumanisasi, meskipun merupakan sebuah fakta sejarah yang konkret, bukanlah takdir yang turun dari langit, tetapi akibat dari tatanan yang tidak adil yang melahirkan kekerasan dari tangan-tangan para penindas, yang pada gilirannya mendehumanisasikan kaum tertindas (Freire, 1968, dalam Smith, 2008)

Freire sangat yakin bahwa sebuah tatanan sosial dalam suatu masyarakat, yang tidak proporsional dalam memandang manusia dan kemanusiaannya, memaksa individu untuk percaya bahwa kemiskinan dan ketidakadilan adalah kenyataan yang tidak terelakkan dan terbantahkan. Sehingga pemaksaan semacam ini menghasilkan suatu mitos-mitos yang berfungsi sebagai alat legitimasi kepentingan-kepentingan kelompok tertentu. Kekuasaan digunakan sebagai alasan dalam masyarakat yang tak berkeadilan untuk memaksa dan menindas, sedangkan mitos-mitos sosial dan konsep-konsep distortif tersebut digunakan untuk menjustifikasi dan merasionalisasi penindasan tersebut. Akibatnya, orang-orang yang berkuasa meyakini dirinya sebagai pemelihara tatanan dan stabilitas masyarakat. Sementara orang-orang yang tertindas menerima begitu saja ketidakberdayaan mereka, sehingga mencari sumber-sumber harapan lain seperti surga dan keberuntungan (Smith, 2008).

Untuk membereskan hal ini, Freire menggagas sebuah ide mengenai konseptualisasi proses penyadaran yang mengarah pada konsep pembebasan yang ia sebut sebagai “kemanusiaan yang utuh”. Hasil penyadaran ini ia namai dengan conscientizacao, atau tingkat kesadaran dimana setiap individu memiliki kemampuan untuk melihat sistem sosial secara kritis dan reflektif, bukan sekedar dogmatis yang akhirnya melahirkan inferioritas-inferioritas yang berkepanjangan. Ia mampu memahami silang-sengkarut realitas yang kontradiktif dalam kehidupan mereka sendiri, sekaligus mampu memberi evaluasi serta menggeneralisasi kontradiksi-kontradiksi tersebut diluar lingkungan sosialnya sehingga ia mampu mentransformasikan kelompok sosialnya secara kreatif, bersama dengan individu lainnya.

Freire juga mengkontraskan dua jenis kesadaran yang lebih rendah, namun nyatanya jenis kesadaran yang lazim ditemukan dari korban-korban sistem pendidikan yang menindas. Yang pertama dinamainya, kesadaran naif. Kesadaran jenis ini dicirikan dengan perilaku individu yang cenderung menyederhanakan realitas. Ia justru mencerna bahwa ketidakadilan yang dihadapinya merupakan suatu kesalahan sistem tertentu, sehingga kesimpulan yang diambil cenderung dangkal dan mengada-ada. Jenis kesadaran yang ketiga disebut, kesadaran magis. Kesadaran ini memiliki ciri utama inferioritas akut dimana individu mengadaptasi atau menyesuaikan diri secara fatalistik dengan sistem yang ada.

Tabel 1. Perbandingan Jenis Kesadaran Freire

Kesadaran Magis

“Menyesuaikan”

Dia sakit karena tidak memiliki uang

Kesadaran Naif “Memperbaharui”

Itu bukan tugas saya, tapi tugas pemerintah untuk memberantas korupsi

Kesadaran Kritis “Mengubah”

Apa masalah yang paling dehumanitatif dalam kehidupan manusia? Apakah memang benar begitu adanya? Bagaimana seharusnya? Apa yang harus kita lakukan?

Conscientizacao bukanlah teknik untuk mentransfer informasi, atau bahkan teknik pelatihan keterampilan. Namun lebih kepada proses dialogis (dialektik) yang mengantarkan individu untuk memecahkan masalah-masalah eksistensial mereka.

 

Bukan Konsep Semata

Untuk mencapai conscientizacao diperlukan adanya reformulasi kurikulum (Freire, 2003). Kurikulum sendiri sebenarnya bersifat sangat teknis dan seharusnya elastis, mencakup kebutuhan-kebutuhan aktual siswa (walaupun tidak seluruhnya). Pada dasarnya, menurut Freire, formulasi kurikulum dilandasi oleh suatu semangat tertentu (entah itu semangat politis, yang menyangkut kepentingan kelompok tertentu, dsb) yaitu semangat conscientizacao. Metode pengajaran satu arah, peremehan dan pengabaian potensi individu, serta penolakan terhadap siswa miskin seharusnya sudah mulai ditinggalkan.

Pendidikan seyogyanya kembali pada metode asalnya dari sang Begawan aslinya, Socrates. Socrates sangat menekankan metode dialogis untuk membangun kesadaran kritis atau conscientizacao dari lawan bicaranya. Ia tidak pernah sekalipun menganggap dirinya lebih ahli daripada lawan bicaranya, justru ia berharap mampu bertukar pengalaman dan pengetahuan dengan lawan bicaranya.

Dalam mendidik masyarakat miskin, sepertinya penting bagi kita untuk mendudukkan kemanusiaan mereka, menganggap mereka sebagai ahli dalam kehidupan mereka sendiri. Dengan begitu, mereka akan terbiasa untuk membangun sikap konstruktif, aktif dan reflektif untuk membangun kehidupan mereka sendiri, dan akhirnya mampu membangun kepercayaan diri mereka. Sehingga mereka tidak mudah menyerah pada ketertindasan dan kemalangan.

 

Daftar Pustaka

Smith, W.A. (2008). Conscientizacao. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Freire, P. (2003). Pendidikan Masyarakat Kota. Yogyakarta : LKiS

About ameliazein

Awkward, period.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s