(Sebuah Tinjauan Reflektif Tentang Masa Orientasi dan Pengenalan Lingkungan Kampus)

Seorang terpelajar harusnya sudah adil sejak dalam pikiran. Apalagi dalam perbuatan.

- Pramoedya Ananta Toer, Novelis

Kalau dirimu tak memiliki apapun untuk diberikan, kamu masih punya tangan dan kaki. Kalau dirimu tak mampu berbuat, kamu masih memiliki hati untuk diberikan. Berikan hatimu untuk sesama ketika kamu memang tidak memiliki apa-apa. Keterbatasan adalah alasan konyol untuk tidak memberi dan tidak peduli.

- Rahkman Ardi, Dosen Fakultas Psikologi Unair

Setiap bagian kecil dari komunitas selalu memiliki peran penting untuk mengubah lingkungannya. Sampai di sini, saya amat yakin dengan argumen saya ini. Lihatlah, bagaimana Adolf Hitler mampu menggerakkan bangsa Jerman untuk bangkit dan meraih jati dirinya di depan bangsa-bangsa lainnya dengan mengangkat senjata, dan sekaligus membunuh banyak orang. Bagaimana Nabi Muhammad SAW mampu mengangkat harkat bangsa Arab yang terbiasa hidup dalam silang-sengkarut kenistaan, menjadi bangsa yang beradab dan disegani oleh seluruh dunia. Bagaimana Mahatma Gandhi mampu membakar semangat rakyat India untuk pulih dari krisis multidimensional yang membelit mereka dan mengobarkan semangat insurgensi terhadap penjajah yang sedemikian lama mengintimidasi bangsa India dalam segala hal. Dan yang paling dekat dan lekat di ingatan kita, bagaimana Bung Tomo mampu membumikan semangat perjuangan kepada arek-arek Surabaya untuk bersatu-padu, mengusir tentara sekutu yang intimidatif.

Setiap individu adalah penting.

Karena setiap bagian dari mereka, selalu membawa pesan perubahan.

Ini yang harus kalian dan kita semua yakini.

Kita berangkat dari sebuah komunitas ilmiah yaitu Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, dipertemukan oleh berbagai kepentingan dan motif-motif yang lekat dengan diri kita. Dari latar belakang pendidikan, pola asuh, dan kultur serta semangat yang berbeda, kita DIPAKSA untuk berjuang bersama, memperjuangkan apa yang ingin kita perjuangkan.

Ada yang SO (Study Oriented), ada yang aktivis sejati, ada yang acuh, hobi dandan, hedonis, mbladhus, shuvit, dan lain-lainnya. Dan inilah kita! Kita adalah potret dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat multikultural yang nantinya akan kita hadapi sebagai profesional, menjadi target operasi kita, dan (harusnya) menjadi alasan mengapa kita belajar. Saya sendiri yakin, bahwa setiap bagian dari kita memiliki niat dan alasan berbeda mengapa kita harus berada dalam komunitas ini. Namun saya juga yakin bahwa alasan itu mulia dan diniatkan untuk orang lain, minimal untuk keluarga-keluarga kita.

Kembali lagi ke bahasan awal kita. Menjadi adaptif bukan berarti harus selalu diterima di berbagai macam komunitas, lantas memiliki banyak topeng, atau harus bergelar munafik. Tetapi adalah sebuah proses pemaknaan diri kita sebagai bagian dari sebuah komunitas. Adaptasi bukan berarti tanpa konflik. Bukan berarti tanpa penolakan, dilema, dan kecanggungan, karena hal-hal tersebut harus diyakini sebagai bagian dari proses pemaknaan itu sendiri.

Kita adalah bagian dari suatu sistem organis, layaknya sebuah deretan organ-organ tubuh yang memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Karena itu, kita bergantung atas fungsi yang dimiliki oleh orang-orang lain, bahkan kecanduan. Tanpa fungsi yang lain, kita mati. Habis. Tak bermakna apa-apa. Kita bergerak secara dinamis layaknya sistem sirkulasi darah yang melibatkan banyak organ, seperti sistem pencernaan yang saling bergantung kepada fungsi-fungsi organ lainnya. Begitulah kita manusia. Satu habis, habislah kita.

Saya memahami bagaimana perasaan mahasiswa baru ketika pertama kali bertemu dengan teman-teman dalam komunitas barunya. Kerinduan yang membuncah atas kenangan-kenangan masa SMA sangat mengganggu diri saya, dan menghambat diri saya untuk merenungi posisi dan peran saya sebagai bagian dari komunitas yang baru saja saya masuki. Akibatnya, saya bungkam atas segalanya. Saya malas bertindak dan berkontribusi untuk komunitas saya. Namun akhirnya saya menyadari ketika melewati Student Day dan Psycho Camp, hidup dengan dibayang-bayangi romantisme masa lalu sungguh tidak mengenakkan. Lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan, daripada mengutuki kegelapan, demikian kata pepatah Cina.

Begitu pula ketika saya bertemu dengan perwakilan kelompok di halaman belakang perpustakaan sore ini untuk membicarakan masalah pengacakan kelompok. Ketika duapuluh orang yang hadir di sana mencurahkan pemikirannya kepada panitia, sungguh saya meyakini merekalah representasi diri saya, dua tahun yang lalu. Tugas perkembangan mereka sebagai seorang remaja awal yang hendak menjalani transisi sebagai seorang manusia dewasa, yang memang dicirikan sebagai remaja yang selalu conform dan loyal dengan kelompok, cukup menjadi alasan bagi saya untuk maklum mengapa mereka menolak rencana panitia untuk mengacak kelompok. Namun tak sedikit pula yang sudah mulai open mind dan berpikir lebih dewasa untuk menerima dan mencoba tantangan perubahan. Itulah komunitas, beragam dan dinamis. Tanpa perbedaan, komunitas itu mati.

Pada akhirnya, saya mencoba merefleksikan Student Day dan Psycho Camp sebagai proses pemaknaan diri Maba sebagai bagian dari komunitas Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Karena dalam proses ini, Maba diminta mencurahkan segala dayanya sebagai manusia yang utuh untuk menemukan eksistensi dirinya sendiri, oleh karena itu konsep yang diberlakukan dalam proses ini adalah konsep khusus yang diharapkan mampu membantu Maba untuk melewati proses pemaknaan dirinya. Namun kami (pun) menyadari bahwa proses itu tidak mungkin terlewati secara individual, namun harus dalam kelompok kecil, maupun kelompok yang lebih besar, yaitu angkatan. Dan tentunya kami mengharapkan proses ini terlewati dengan baik, dan terinternalisasi secara ideal pada masing-masing individu.

Kegiatan ini tidak terlaksana dengan sistem yang tiba-tiba jadi. Namun ada proses pengorbanan panjang yang dilakukan oleh pelaku-pelakunya. Bertengkar dengan orang tua, pulang malam nyaris setiap hari, bertengkar dengan pasangan, bergelut dengan tugas-tugas kuliah yang menyiksa dan memaksa kami untuk begadang sampai semalaman, nilai akhir yang turun drastis, hidup dalam silang-sengkarut khas mahasiswa, kelelahan dan kejenuhan selama proses pengerjaan acara ini selama kurang lebih 6 bulan (sejak April) merupakan bentuk pengorbanan kami sebagai panitia. Namun disertai dengan harapan, bahwa cinta yang kami berikan kepada keluarga baru kami ini akhirnya benar-benar berbalas dengan sebuah pemaknaan yang manis.

Selasa, 6 Oktober 2009

ETUDE Bookstore

Mewakili seluruh panitia dan pihak-pihak yang terlibat dalam proses pengerjaan Student Day dan Psycho Camp 2009

Rizqy Amelia Zein Badjabir

Konseptor dan Koordinator Sie Acara Student Day 2009

Dipersembahkan kepada Keluarga Baru kami Tercinta :

Angkatan 2009 Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Sekali lagi kami ucapkan, Selamat Datang!