Suatu saat, seorang kaya ingin menunaikan kewajibannya berzakat dengan memberikan sejumlah uang kepada tetangganya yang kurang mampu. Tanpa diduga, uang tersebut malah digunakan untuk membeli handphone, bukan digunakan sebagai modal usaha, seperti harapan si muzakki. Kondisi ini membuat trenyuh hati si kaya, yang awalnya berusaha membantu menaikkan kualitas hidup tetangganya. ”Semua orang sudah mempunyai handphone, pak. Masak saya tidak punya?” begitu desis si mustahiq ketika ditanya.

Setiap Masa Memiliki Krisisnya Sendiri

Ketika zaman prasejarah, manusia tak pernah pusing akan kebutuhan tersier. Yang mereka pusingkan hanyalah kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus segera mereka penuhi. Berburu, bercocok tanam, membuat alat-alat pertanian, dan sebagainya. Bergeser pada awal-awal tahun masehi, manusia berupaya menguak misteri alam semesta, sehingga manusia kian berhasrat untuk menemukan jawaban-jawaban atas fenomena alam disekitarnya. Berlanjut pada abad pertengahan, manusia mulai menggeserkan fokusnya pada kekuasaan. Segala daya dan upaya seakan difokuskan pada ekspansi wilayah kelompoknya masing-masing. Tak peduli akibat yang ditimbulkan dari usaha-usaha tersebut. Entah itu kerusakan fisik, kerusakan ideologi, kerusakan psikologis, bahkan kerusakan moral akibat perang dan penjajahan yang saat itu, sedang getol dilakukan.

Tentunya akan berbeda bila kita bandingkan dengan situasi saat ini. Ketika industri menjadi nyawa zaman dan kemajuan teknologi menjerat leher-leher manusia sehingga manusia dipaksa bertengkar dengan ciptaannya sendiri. Tentunya, akibat yang ditimbulkan dari semua itu bukanlah berupa dampak lokal yang hanya dirasakan sebagian kecil manusia, tetapi berupa dampak global, dampak yang dirasakan oleh hampir setiap orang. Dampak dari itu semua tidak hanya dirasakan dalam bentuk krisis multidimensional yang mencakup resesi ekonomi, krisis moral, krisis pendidikan, atau krisis sosiokultural, tetapi juga berbentuk sebuah krisis baru yang bernama krisis realitas.

Krisis Realitas

Realitas, seperti halnya sistem ekonomi, sistem budaya, dan sistem-sistem lainnya, tentunya merupakan hasil ciptaan manusia. Terlalu banyak manusia yang tak dapat mencerna realitas dengan bijaksana sehingga ia ikut terseret dalam ketidakpastian. Hal ini sudah diprediksi oleh seorang sosiolog era postmodern asal Prancis, Jean Baudrillard.

Realitas, sejatinya hanya sekedar dapat diceritakan dan direpresentasikan, tetapi malah berkembang sedemikian pesatnya sehingga menjadi imaji yang dapat direkayasa, dibuat, dan simulasi. Inilah tanda kedatangan kebudayaan postmodern, menurut Baudrillard.

Simulasi (jamak : simulacra, yang berarti tanda, simbol, atau model) adalah proses penciptaan realitas yang semu tanpa referensi. Dalam konteks ini, simulasi merupakan suatu proses penciptaan model-model realitas tanpa asal-usul atau referensi pada realitas sejati, sehingga manusia menganggap yang imajiner sebagai yang nyata dan asli. Bila imaji ini diyakini sebagai realitas sejati, bahkan lebih meyakinkan daripada realitas yang sesungguhnya, maka akan tercipta kondisi yang dinamai hiperrealitas. Kondisi ini ditandai dengan tidak adanya pembeda antara realitas dan imaji, sehingga imaji, dapat dengan sendirinya menggantikan posisi realitas.

Perangkap Simulasi, Biang Kerok Krisis Realitas

Ketika seorang lelaki ditanya tentang konsepsi “cantik”, ia pasti spontan menjawab “wanita, berkulit putih, berambut panjang lurus, tinggi dan langsing”. Karena itulah, pariwara yang menjajakan produk-produk kecantikan selalu dimainkan oleh model-model yang “bertipikal sama” : berkulit putih, berambut panjang lurus, dan berbadan langsing!

Media, baik cetak maupun elektronik, memang patut dipersalahkan atas lahirnya simulasi yang kemudian memunculkan keadaan hiperrealitas. Tidak sedikit orang-orang miskin yang tersenyum kecut melihat sinetron di TV yang menggambarkan gaya hidup mewah yang ditampilkan oleh pemeran-pemerannya. Kita telah menjelma sebagai masyarakat yang diatur oleh silang-sengkarut simulasi. Media telah menjadi mesin yang memproduksi imaji ideal, dan memaksa manusia untuk mempercayai bahwa imaji yang ia ciptakan adalah realitas yang sebenarnya!

Tunggangi Realitas, Keluar dari Gemelut Krisis

Simulasi layaknya sebuah pusaran angin puyuh yang senantiasa menarik kuat-kuat benda disekitarnya untuk ia seret sesuai arah putarannya. Ia tak akan pernah berhenti sampai terjadi kondisi hiperrealitas.

Keluar dari cengkeraman simulasi bukan hal yang mudah, namun masih ada harapan, yaitu dengan menunggangi realitas itu sendiri dengan membuat simulasi tandingan : nrimo ing pandum.

Nrimo ing pandum merupakan filosofi jawa, yang menganjurkan manusia untuk nrimo, menerima segala yang dianugerahkan padanya dengan tanpa keluh. Kuncinya adalah menerima kondisi aktual sebagai kondisi ideal sambil menetapkan tujuan di masa depan, sehingga manusia tak akan terusik dengan imaji ideal lainnya. Namun, dengan tentunnya harus dibarengi dengan usaha yang maksimal.