You are currently browsing the monthly archive for September 2009.
Sudah menjadi takdir bagi ilmu pengetahuan untuk selalu disangsikan. Masih teringat di memori kita pernyataan dari seorang filsuf Prancis yang terkenal pada abad pertengahan, Rene Descartes yang mencoba untuk menyangsikan segala sesuatu (Dubium Methodicum) untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang esensial. Ketika ilmu selalu diragukan, maka ia akan melahirkan sebuah terobosan. Seandainya saja, ilmu pengetahuan bersifat taken for granted, maka ia akan stagnan dan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baru. Akhirnya, kemajuan ilmu pengetahuan akan hanya menjadi sebatas wacana, bukan realita.
Psikologi, sebagai sebuah ilmu, tentunya tak akan mungkin menghindari kenyataan ini. Sebagai ilmu yang baru lahir dari rahim ibunya (filsafat), psikologi senantiasa dihajar oleh kritik. Dan ini malah memperkaya dirinya, bukan malah menjerumuskannya. Tentunya, dari sekian banyak obyek kajian yang dibahas dalam psikologi, psikologi sosial juga tak luput dari kritik.
Bukan hal yang mudah dalam menjelaskan secara definitif tentang arti dari psikologi sosial kritis. Intinya, psikologi sosial kritis memiliki upaya untuk mempertanyakan segala hal, bahkan dari yang terkecil, hasil penelitian, atau sang peneliti itu sendiri. Satu hal yang amat istimewa dalam psikologi sosial kritis adalah cakupan dari kritik itu sendiri. Bagi psikologi sosial kritis, penelitian seharusnya berkutat pada isu-isu seperti politik, moralitas, dan perubahan sosial. Dan hal-hal tersebut dapat dimulai dengan isu-isu fundamental seperti penindasan, eksploitasi, dan kesejahteraan umat manusia. Hal-hal semacam ini amat dekat dengan realitas yang kita hadapi sehari-hari, yang seringkali membawa kita pada kajian-kajian tentang psikologi sosial, namun sayangnya, masih termarjinalisasi dalam topik-topik yang dibahas dalam penelitian-penelitian sosial.
Psikologi sosial kritis tidak hanya berupaya mengkritisi elemen-elemen dasar dari sebuah institusi, organisasi, dan praktisi. Namun juga mengkritisi hal yang amat fundamental : ilmu psikologi itu sendiri. Ia berupaya mengkritisi asumsi-asumsi dasarnya, aplikasi praktisnya, dan juga pengaruh-pengaruh yang ditimbulkannya. Bahkan dalam psikologi sosial kritis, disiplin ilmu psikologi sosial merupakan sumber dari masalah-masalah yang harus dikritisi.
Sejarah Singkat Psikologi Sosial
Psikologi sosial modern mulai dikembangkan pada saat pergantian abad ke 19 menuju abad 20. Tripplet (1898) memulai sebuah eksperimen perdana dalam bidang psikologi sosial dengan meneliti pengaruh kehadiran orang lain terhadap peningkatan performance seseorang dalam mengerjakan suatu tugas. Selain itu, buku yang berjudul Social Psychology diterbitkan pada tahun 1908 (McDougall, 1908; Ross, 1908).
Menjamurnya penelitian-penelitian di bidang psikologi sosial barangkali dimulai periode 1920-1940. Beberapa topik penelitian sengaja difokuskan pada isu-isu tertentu yang sedang booming pada masa itu. Contohnya, pada awal 1900an, yang pada masa itu terjadi imigrasi besar-besaran penduduk Eropa Barat menuju Amerika Utara. Tentunya bukanlah hal yang mengejutkan bila penelitian-penelitian yang banyak dilakukan berbicara tentang sikap, kebangsaan, dan kelompok-kelompok etnis (Pancer, 1997).
Lain halnya ketika menjamurnya sistem pemerintahan yang otoriter yang menjelma dalam rezim-rezim, tentunya akan menstimulasi topik yang berbeda pula. Tren ini menstimulasi munculnya penelitian-penelitian yang bertopik kepemimpinan dan pengaruh norma kelompok pada perilaku individu. Salah satu peneliti yang terkenal pada masa itu adalah Kurt Lewin (1939) yang meneliti tentang kepemimpinan otokratik, demokrasi, dan laissez-faire.
Pada masa perang dunia pertama, tema yang mendominasi penelitian saat itu adalah depresi (Finnison, 1976, dalam Pancer, 1997). Pada perang dunia tema beralih pada percampuran yang unik antara science dengan ide-ide humanis. Hal ini dipengaruhi oleh terjadinya peristiwa genosida yang dilakukan NAZI pada kaum yahudi. Karena peristiwa ini, para peneliti brilian yang tinggal di Eropa terpaksa harus angkat kaki dari tanah kelahirannya menuju Amerika Utara untuk menghindari konflik politik dan militer yang tidak menentu.
Klimaks dari semua rentetan peristiwa yang telah dijabarkan diatas adalah masa setelah perang yang akhirnya menyeret tema-tema psikologi sosial menuju kearah kritik terhadap penelitian-penelitian terapan yang mulai dibangun sejak masa sebelum perang. Kritik ini mengarah pada “umpatan” para ilmuwan terhadap penelitian sebelumnya karena dianggap tidak didukung oleh landasan teori yang kokoh, dan dilakukan dalam kondisi manipulatif laboratorium, yang tentunya, amat berbeda dengan realitas yang sebenarnya.
Krisis “Kepercayaan Diri” dalam Psikologi Sosial
Pada pertengahan 1960an, psikologi sosial mulai beranjak matang dan dilirik sebagai alternatif segar karena menawarkan perspektif baru dalam menjelaskan manusia. Namun sayangnya, pada masa ini, psikologi sosial semakin asosial dengan menjamurnya penelitian-penelitian manipulatif di laboratorium yang dilakukan oleh para pengampunya. Tentunya ini bertentangan dengan tujuan awal psikologi sosial yang menghendaki adanya penggambaran dan penjelasan yang sempurna tentang fenomena-fenomena sosial. Karena itu, banyak pengkritik yang menyangsikan kemampuan psikologi sosial dalam menjelaskan fenomena-fenomena sosial yang sesungguhnya.
Silverman (1977, dalam Pancer, 1997), dalam artikelnya yang berjudul “Why Social Psychology Fails”, berpendapat bahwa pendekatan manipulatif yang dilakukan dalam laboratorium oleh para ilmuwan psikologi sosial telah gagal total. Tentunya ia menyarankan pendekatan yang lebih social-minded melalui pendekatan yang sifatnya deskriptif, natural, dan difokuskan pada “penelusuran” yang mendalam dalam penelitiannya. Eksperimen laboratorium sebenarnya sah-sah saja dilakukan selama data-data yang didapatkan hanya sebatas data tambahan.
Sayangnya, setelah dua puluh tahun kemudian, krisis “kepercayaan diri” yang melanda psikologi sosial tiba-tiba hilang begitu saja. Hal ini bukanlah disebabkan oleh terselesaikannya krisis tersebut, namun disebabkan oleh kecenderungan “hilangnya” minat psikologi sosial dalam mengejar tujuan awalnya.
Siapa Pengampu Psikologi Sosial, dan Kepada Siapa Psikologi Sosial Ditujukan?
Sampai saat ini, psikologi sosial terkonstruksi dari penelitian-penelitian yang tidak representatif. Mengapa? Cobalah kita merenungkan fakta bahwa 75% penelitian yang dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah di Amerika pada tahun 1980-1985 didasarkan pada penelitian yang dilakukan pada mahasiswa strata satu yang notabene dianggap sebagai masyarakat kelas menengah. Hanya 17% penelitian yang dilakukan pada subyek yang bukan mahasiwa. Sebuah kenyataan yang ironis : psikologi sosial dibangun dari penelitian-penelitian yang dilakukan pada mahasiswa. Padahal idealnya, psikologi sosial seharusnya dapat menggambarkan kondisi manusia yang beragam dari etnis, kebangsaan, kultural, sosioekonomi, umur, dan gender. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian psikologi sosial sangat terbatas pada kelompok sosial tertentu.
Apa yang Dipelajari?
Setelah melalui perjalanan yang panjang, psikologi sosial mengalami stagnasi akibat berkembangnya (dan dominannya) paham kognitif di Amerika. Akibat dari berkembangnya paradigma ini, psikologi sosial seakan diseret dalam wilayah individual yang menginginkan segalanya berfokus pada individu itu sendiri. Walaupun dalam kajian intimate relationship, pendekatan-pendekatan yang selayaknya digunakan adalah pendekatan individual, yang berarti mengabaikan pendekatan kontekstual yang sebenarnya memiliki peranan yang tak kalah pentingnya dengan perspektif individual (Pancer, 1997).
Salah satu solusi yang sempat mengemuka sebagai penawar krisis yang pelik ini adalah “pendudukan” kembali hakikat psikologi sosial pada singgasananya, yang menghendaki penelitian lapangan dan pengembangan teori-teori berdasarkan isu-isu aktual, serta permasalahan sosial yang kerapkali terjadi dalam realitas. Namun nampaknya solusi ini terpaksa tidak diindahkan oleh para pengampunya karena mereka lebih senang berkutat pada eksperimen-eksperimen manipulatif mereka.
Mendobrak Krisis
Inilah saat yang tepat bagi psikologi sosial untuk kembali merebut tahtanya. Ia seharusnya dikembalikan pada arahan dan tujuan awalnya. Psikologi sosial yang benar-benar sosial, yang benar-benar berusaha untuk mengakomodir realitas yang ada diluar sana, bukan malah menggantungkan hidupnya pada eksperimen-eksperimen manipulatif yang justru menjegalnya pada lembah asosial. Namun bagaimana caranya?
- Menggunakan Pendekatan Kualitatif dalam Metode Penelitian, Karena pendekatan kualitatif dipandang sebagai pendekatan yang ideal dalam menjelaskan dan memahami perilaku sosial dalam setting yang natural. Beberapa metode yang lazim digunakan adalah in-depth research, open-ended interviews, observasi naturalistik, studi kasus, dan analisis dokumen.
- Research Partnership, Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa psikologi sosial cenderung mengabaikan pendekatan kontekstual. Maka dari itu, peneliti seharusnya mulai untuk meninggalkan paradigma parsial dalam penelitiannya. Contohnya, ketika seseorang meneliti tentang tindak kriminalitas yang dilakukan seseorang, seharusnya ia tidak bergantung hanya pada data yang dikumpulkan dari si individu pelaku. Peneliti juga harus mengikutsertakan konteks sosialnya. Yaitu dengan melibatkan orang tua, teman, dan siapapun yang tahu benar pribadi si individu.
- Mengintegrasikan Penelitian Dasar dan Penelitian Terapan, Pada realitanya, penelitian terapan cenderung termarjinalisasi dalam bangunan ilmu. Teori-teori justru banyak dilahirkan dari penelitian-penelitian dasar. Padahal, psikologi sosial adalah terapan dari ilmu sosial.
Suatu saat, seorang kaya ingin menunaikan kewajibannya berzakat dengan memberikan sejumlah uang kepada tetangganya yang kurang mampu. Tanpa diduga, uang tersebut malah digunakan untuk membeli handphone, bukan digunakan sebagai modal usaha, seperti harapan si muzakki. Kondisi ini membuat trenyuh hati si kaya, yang awalnya berusaha membantu menaikkan kualitas hidup tetangganya. ”Semua orang sudah mempunyai handphone, pak. Masak saya tidak punya?” begitu desis si mustahiq ketika ditanya.
Setiap Masa Memiliki Krisisnya Sendiri
Ketika zaman prasejarah, manusia tak pernah pusing akan kebutuhan tersier. Yang mereka pusingkan hanyalah kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus segera mereka penuhi. Berburu, bercocok tanam, membuat alat-alat pertanian, dan sebagainya. Bergeser pada awal-awal tahun masehi, manusia berupaya menguak misteri alam semesta, sehingga manusia kian berhasrat untuk menemukan jawaban-jawaban atas fenomena alam disekitarnya. Berlanjut pada abad pertengahan, manusia mulai menggeserkan fokusnya pada kekuasaan. Segala daya dan upaya seakan difokuskan pada ekspansi wilayah kelompoknya masing-masing. Tak peduli akibat yang ditimbulkan dari usaha-usaha tersebut. Entah itu kerusakan fisik, kerusakan ideologi, kerusakan psikologis, bahkan kerusakan moral akibat perang dan penjajahan yang saat itu, sedang getol dilakukan.
Tentunya akan berbeda bila kita bandingkan dengan situasi saat ini. Ketika industri menjadi nyawa zaman dan kemajuan teknologi menjerat leher-leher manusia sehingga manusia dipaksa bertengkar dengan ciptaannya sendiri. Tentunya, akibat yang ditimbulkan dari semua itu bukanlah berupa dampak lokal yang hanya dirasakan sebagian kecil manusia, tetapi berupa dampak global, dampak yang dirasakan oleh hampir setiap orang. Dampak dari itu semua tidak hanya dirasakan dalam bentuk krisis multidimensional yang mencakup resesi ekonomi, krisis moral, krisis pendidikan, atau krisis sosiokultural, tetapi juga berbentuk sebuah krisis baru yang bernama krisis realitas.
Krisis Realitas
Realitas, seperti halnya sistem ekonomi, sistem budaya, dan sistem-sistem lainnya, tentunya merupakan hasil ciptaan manusia. Terlalu banyak manusia yang tak dapat mencerna realitas dengan bijaksana sehingga ia ikut terseret dalam ketidakpastian. Hal ini sudah diprediksi oleh seorang sosiolog era postmodern asal Prancis, Jean Baudrillard.
Realitas, sejatinya hanya sekedar dapat diceritakan dan direpresentasikan, tetapi malah berkembang sedemikian pesatnya sehingga menjadi imaji yang dapat direkayasa, dibuat, dan simulasi. Inilah tanda kedatangan kebudayaan postmodern, menurut Baudrillard.
Simulasi (jamak : simulacra, yang berarti tanda, simbol, atau model) adalah proses penciptaan realitas yang semu tanpa referensi. Dalam konteks ini, simulasi merupakan suatu proses penciptaan model-model realitas tanpa asal-usul atau referensi pada realitas sejati, sehingga manusia menganggap yang imajiner sebagai yang nyata dan asli. Bila imaji ini diyakini sebagai realitas sejati, bahkan lebih meyakinkan daripada realitas yang sesungguhnya, maka akan tercipta kondisi yang dinamai hiperrealitas. Kondisi ini ditandai dengan tidak adanya pembeda antara realitas dan imaji, sehingga imaji, dapat dengan sendirinya menggantikan posisi realitas.
Perangkap Simulasi, Biang Kerok Krisis Realitas
Ketika seorang lelaki ditanya tentang konsepsi “cantik”, ia pasti spontan menjawab “wanita, berkulit putih, berambut panjang lurus, tinggi dan langsing”. Karena itulah, pariwara yang menjajakan produk-produk kecantikan selalu dimainkan oleh model-model yang “bertipikal sama” : berkulit putih, berambut panjang lurus, dan berbadan langsing!
Media, baik cetak maupun elektronik, memang patut dipersalahkan atas lahirnya simulasi yang kemudian memunculkan keadaan hiperrealitas. Tidak sedikit orang-orang miskin yang tersenyum kecut melihat sinetron di TV yang menggambarkan gaya hidup mewah yang ditampilkan oleh pemeran-pemerannya. Kita telah menjelma sebagai masyarakat yang diatur oleh silang-sengkarut simulasi. Media telah menjadi mesin yang memproduksi imaji ideal, dan memaksa manusia untuk mempercayai bahwa imaji yang ia ciptakan adalah realitas yang sebenarnya!
Tunggangi Realitas, Keluar dari Gemelut Krisis
Simulasi layaknya sebuah pusaran angin puyuh yang senantiasa menarik kuat-kuat benda disekitarnya untuk ia seret sesuai arah putarannya. Ia tak akan pernah berhenti sampai terjadi kondisi hiperrealitas.
Keluar dari cengkeraman simulasi bukan hal yang mudah, namun masih ada harapan, yaitu dengan menunggangi realitas itu sendiri dengan membuat simulasi tandingan : nrimo ing pandum.
Nrimo ing pandum merupakan filosofi jawa, yang menganjurkan manusia untuk nrimo, menerima segala yang dianugerahkan padanya dengan tanpa keluh. Kuncinya adalah menerima kondisi aktual sebagai kondisi ideal sambil menetapkan tujuan di masa depan, sehingga manusia tak akan terusik dengan imaji ideal lainnya. Namun, dengan tentunnya harus dibarengi dengan usaha yang maksimal.

komentar terakhir