You are currently browsing the monthly archive for August 2009.

Pasar handset Indonesia bergemuruh begitu hebatnya dengan kehadiran handset pintar bernama Blackberry. Handset buatan RIM (Research In Motion), produsen asal Amerika Serikat ini seakan menjadi simbol gaya hidup yang senantiasa dibicarakan di setiap tempat. Telah terjual sebanyak 20 juta handset lebih dengan pertumbuhan pasar sebesar 5-10%, Blackberry dapat dikatakan sebagai primadona baru handset Indonesia. Selama ini, RIM yang memang tak memiliki cabang di Indonesia ini, memasok Blackberry dengan mengimpornya ke Indonesia.

Selain itu, ketiadaan pelayanan purnajual, servis resmi bergaransi, serta penyediaan suku cadang asli, meresahkan banyak pelanggannya. Untuk itu, RIM “disomasi” oleh Departemen Perdagangan Republik Indonesia untuk segera membuka cabangnya di Indonesia. “Untuk beredar di pasar, Blackberry harus memiliki buku manual berbahasa Indonesia dan enam service centre sesuai Permendag Nomor 19,” kata Subagyo, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan RI. Bila RIM tidak segera menanggapi permintaan Deperindag, maka Depkominfo akan mengambil tindakan tegas, yakni menghentikan layanan sertifikasi Blackberry.

Blackberry, tak dapat dipungkiri, telah nyaris menjadi semacam sign atau simbol gaya hidup modern pada saat sekarang ini. Sosiolog asal Prancis yang juga seseorang tokoh gerakan post-modernisme Jean Baudrillard, menyebut hal ini sebagai simulasi, yaitu penciptaan kenyataan melalui model konseptual atau strategi intelektual untuk membuat yang “tidak ada” menjadi “ada”. Hal ini berimplikasi serius pada munculnya hiperealitas, yaitu keadaan dimana manusia tak dapat membedakan mana “yang nyata” dan mana “yang tidak nyata”. Ia mencermati lebih jauh tentang implikasi yang ditimbulkan dari fenomena ini sebagai kebudayaan industri yang mengaburkan jarak antara fakta dan informasi, hal inilah yang membuat manusia kerapkali selalu ingin mencoba hal-hal baru yang ditawarkan oleh keadaan simulasi, membeli dan menjadikannya konsepsi ideal. Blackberry merupakan simbolisasi “pesan tekstual” yang kemudian dipahami sebagai “konsepsi ideal” bagi sebagian orang. Konsepsi inilah yang menuntun mereka untuk membeli, atau minimal mencari informasi apapun yang berkaitan dengan Blackberry. Lebih dari itu, konsepsi ini pula yang patut dipersalahkan atas tingginya tingkat konsumsi yang dilakukan seseorang. Singkatnya, harga mahal yang ditebus seseorang untuk membeli Blackberry adalah harga dari sebuah simbol gaya hidup. Inilah kesalahan besar yang dilakukan oleh bangsa ini, senang (bahkan bangga) menjadi bangsa konsumen dan tidak lagi bergairah menjadi bangsa produsen. Maka tak heran, label negara dunia ketiga sepertinya selalu lekat pada bangsa merah-putih. Semoga saja, dengan somasi yang dilakukan Deperindag terhadap RIM, selain untuk melindungi hak konsumen Blackberry di Indonesia, juga dapat membuka mata kita semua, untuk keluar dari perangkap hiperealitas dan berhenti menjadi korban simulasi dan konsumerisme serta kembali bersemangat untuk keluar dari inferioritas.