You are currently browsing the monthly archive for October 2008.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal (QS Al Anfaal ayat 2)
1. Bumi Berbentuk Bulat
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam…”
(Al Qur’an, 39:5)
Dalam Al Qur’an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai “menutupkan” dalam ayat di atas adalah “takwir”. Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala.
Keterangan yang disebut dalam ayat tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi. Pernyataan ini hanya benar jika bumi berbentuk bulat. Ini berarti bahwa dalam Al Qur’an, yang telah diturunkan di abad ke-7, telah diisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat. Namun perlu diingat bahwa ilmu astronomi kala itu memahami bumi secara berbeda. Di masa itu, bumi diyakini berbentuk bidang datar, dan semua perhitungan serta penjelasan ilmiah didasarkan pada keyakinan ini. Sebaliknya, ayat-ayat Al Qur’an berisi informasi yang hanya mampu kita pahami dalam satu abad terakhir. Oleh karena Al Qur’an adalah firman Allah, maka tidak mengherankan jika kata-kata yang tepat digunakan dalam ayat-ayatnya ketika menjelaskan jagat raya.
NICOLAUS COPERNICUS 1473-1543
MUHAMMAD SAW 570 SM – 632 SM
Mana yang duluan?
2. Langit yang mengembang (Expanding Universe)
Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)
Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.
Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.
Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.
Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.
Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi.
3. Gunung yang Bergerak
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” [QS 27:88]
14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.
Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:
Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)
Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)
Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.
3. Diselamatkannya Jasad Fir’aun
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” [QS 10:92]
Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya. Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as.
Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Makam Fir’aun, Piramid, yang tertimbun tanah baru ditemukan oleh arkeolog Giovanni Battista Belzoni tahun 1817. Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).
4. Lautan yang Tidak Bercampur Satu Sama Lain
Terdapat gelombang besar, arus kuat, dan gelombang pasang di Laut Tengah dan Samudra Atlantik. Air Laut Tengah memasuki Samudra Atlantik melalui selat Gibraltar. Namun suhu, kadar garam, dan kerapatan air laut di kedua tempat ini tidak berubah karena adanya penghalang yang memisahkan keduanya. Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut:
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing.” (Al Qur’an, 55:19-20)
Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)
Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, namun, hal ini telah dinyatakan dalam Al Qur’an sejak 14 abad yang lalu.
Jelas Al Qur’an itu benar dan tak ada keraguan di dalamnya.
”Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [Al Baqarah:2]
Jika agama lain bisa punya lebih dari 4 versi kitab suci yang berbeda satu dengan lainnya, maka Al Qur’an hanya ada satu dan tak ada pertentangan di dalamnya:
”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [An Nisa’:82]
Al Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang bisa dihafal jutaan manusia (Hafidz/penghafal Al Qur’an) sehingga keaslian/kesuciannya selalu terjaga.
Subhanallah!
Oleh : Rizqy Amelia Zein*
Ketika kepala sekolah di sebuah sekolah menengah sedang membacakan nama-nama siswa yang tergolong pintar dalam yudisium sekolahnya, seorang siswa tiba-tiba bertanya, “Ibu, siapakah yang lebih pintar, Albert Einstein atau Mike Tyson? Rudi Hartono atau BJ Habibie?” Ibu Kepada Sekolah tidak saja kaget, tetapi juga marah. Dengan suara tegas dan berapi-api, ia berkata di depan pengeras suara, “Mana mungkin Mike Tyson yang kerjanya memukul orang dibandingkan dengan Einstein yang menemukan hukum relativitas. Apalagi membandingkan Habibie dengan Rudi Hartono,” lanjutnya. Siswa yang bertanya−kebetulan pemain basket terkenal yang mengharumkan nama sekolahnya−tidak hanya kecewa dengan jawaban itu, tetapi juga merasa sia-sia dengan ketrampilannya. Dia tidak pernah dianggap cerdas dan pantas memperoleh penghargaan dari sekolah. Dia mengalami kekecewaan serupa sebagaimana yang dialami seorang pemain gitar terkenal dari sekolahnya (Pasiak, 2003: 13).
Dari ilustrasi singkat diatas, dapat kita peroleh gambaran bahwa masyarakat pada umumnya, memuja nilai kognitif. Hal ini dapat dilihat melalui sistem penilaian yang umumnya masih dipakai di sekolah-sekolah, terutama sekolah negeri, yang masih menggunakan model penilaian tradisional. Sehingga, alat ukur kecerdasan yang utama adalah nilai kognitif. Siswa yang nilai kognitifnya jelek berarti bodoh, sedangkan yang pandai adalah yang nilai kognitifnya bagus. Padahal, Howard Gardner, yang pada tahun 1983 menerbitkan bukunya yang berjudul, Frame of Mind, menyatakan bahwa kecerdasan bukan berarti hanya ada satu jenis saja, yaitu kecerdasan kognitif. Melainkan, ada Multiple Intelligence (Kecerdasan Majemuk). Ia menemukan ada tujuh kecerdasan manusia yang dapat dikembangkan potensinya, yaitu meliputi Kecerdasan Linguistik, Kecerdasan Matematik Logis, Kecerdasan Musikal, Kinestetik-Jasmani, Kecerdasan Antarpribadi, Kecerdasan Intrapribadi (Armstrong, 2002). Namun dalam buku terakhirnya, Intelligence Reframed, ia menambahkan tiga kecerdasan yang tak kalah pentingnya; kecerdasan naturalis, kecerdasan eksistensial, dan kecerdasan spiritual (Gardner, 1999, h. 47 dalam Pasiak, 2003, h. 27).
Pada realitanya, perkembangan pendidikan Indonesia tidak menunjukkan keberhasilannya secara signifikan. Ini terbukti dari indeks pembangunan manusia (IPM index) Indonesia pada tahun 2005, Indonesia menempati urutan 110 dari 177 negara, dengan indeks 0.697, turun dari posisi sebelumnya di urutan 102 dengan indeks 0.677 pada tahun 1999. Posisi ini cukup jauh jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia (urutan 61/0.796), Thailand (urutan 73/0.778), Filipina (urutan 84/0.758), dan Vietnam (urutan 108/0.704). Kemajuan signifikan terlihat pada tahun 2006, dengan angka IPM mencapai 0.711 dan berada diurutan 108, mengalahkan Vietnam yang memiliki nilai 0.709, dan pada tahun 2007 angka IPM Indonesia kembali naik menjadi 0.728. Kecenderungan angka IPM Indonesia yang naik terus menerus (dari 0.677 pada tahun 1999, 0.697 pada 2005, dan 0.711 pada 2006) diharapkan semakin menipiskan ketertinggalannya dari negara-negara lain (Kompas, 30 Mei 2007). Selain itu, untuk masalah penggangguran juga merupakan salah satu efek domino kurang efektifnya pendidikan Indonesia dalam membentuk individu yang unggul dan kompeten. Berdasarkan nota keuangan 2007 dinyatakan setiap 1% kenaikan pertumbuhan diharapkan menciptakan 200.000 lapangan pekerjaan baru. Artinya dengan pertumbuhan 6% seharusnya akan ada 1,2 juta lapangan kerja baru. Namun, faktanya tiap tahunnya ada pasokan tenaga kerja baru yang masuk pasar sebesar 2,5 juta orang sehingga masalah pengangguran belum selesai, meski dalam laporan BPS per Februari 2007 angka pengangguran 9.75%, lebih rendah dari Agustus 2006, yaitu sebesar 10,28%.
Tercerabut dari Esensinya
Pendidikan sejatinya tidak hanya memiliki tujuan untuk mencerdaskan siswa secara kognitif, namun lebih pada memerdekakan dan memanusiakan siswa. Tidak sedikit pula yang bependapat bahwa pendidikan bertujuan untuk mendewasakan dan menghasilkan seorang individu yang memiliki peran sebagai agent of change. Namun, dewasa ini esensi pendidikan sendiri mengalami pergeseran menjadi hanya sekedar wahana untuk mendapatkan pekerjaan dan uang. Akibatnya, orientasi pendidikan saat ini bersifat sangat pragmatis, yang hanya menghargai hasil, bukan proses. Dalam sebuah ujian yang memakai sistem multiple choice, jika jawaban akhirnya salah, maka jawaban tersebut seluruhnya salah, dan tentu saja tidak mendapat nilai atau bahkan nilai akan dikurangi. Padahal, ada sebuah proses yang seharusnya dihargai, dan seharusnya mendapatkan penilaian. Proses sendiri memiliki peran penting dalam pendidikan, bagaimana siswa belajar dari tidak tahu−menjadi tahu, bagaimana siswa berusaha dengan usaha terbaiknya untuk memahami dirinya dan lingkungannya, bagaimana siswa berusaha mengaplikasikan teori yang didapatnya menjadi sesuatu yang berguna bagi lingkungannya, seharusnya patut mendapatkan apresiasi.
Karena itu, siswa hanya terpacu untuk mendapatkan nilai yang baik−walaupun dari cara-cara yang curang, hanya untuk memenuhi hasratnya, hasrat gurunya, hasrat orang tuanya, dan hasrat lingkungannya untuk mendapatkan “nilai” yang baik, sehingga mendapatkan pekerjaan yang baik, dan menghasilkan uang yang “banyak”.

Cerminan Pendidikan Indonesia?
Isu-isu yang krusial seperti ujian nasional yang mekanis, tidak manusiawi, dan banyak kecurangan, para birokrat yang doyan gratifikasi dan korupsi, artis-artis yang senang (bahkan bangga) berpose bugil, kelompok-kelompok yang senang kekerasan, pengusaha yang eksploitatif, dan buruh yang anarkis, tidak dapat dipungkiri bahwa merekalah cerminan hasil pendidikan kita selama ini. Sungguh, kenyataan tersebut sangat menyakitkan. Betapa tidak, selama ini ternyata sistem pendidikan kita hanya membentuk individu dengan “noda-noda hitam” yang bernama manusia Indonesia.
Sebagaimana pendapat Derrida, bahwa pikiran (kognisi) hanya menciptakan gap (kesenjangan) antara kenyataan dengan persepsi yang kemudian diwujudkan melalui simbol arbitrair yang berupa kata, kalimat, atau teori. Celakanya, pendidikan kita selama ini seakan-akan menyuarakan bahwa kebenaran kognisi itu mutlak, tidak ada lagi kebenaran di luar pikiran. Sehingga, siswa selama ini hanya diajak menyelami teori, mementingkan hasil bukan proses, dan jarang sekali dikenalkan dengan realita diluar.
Ujian Nasional, Kecurangan, dan Hati Nurani
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menetapkan angka 5,25 sebagai rata-rata minimal kelulusan bagi siswa peserta UN tahun pelajaran 2007/2008. Nilai rata-rata tersebut lebih tinggi daripada tahun pelajaran sebelumnya (Jawa Pos, 9 April 2008). Padahal menurut bebarapa pihak, tolok ukur rata-rata nilai UN biasanya menjadi tolok ukur kualitas sekolah, sehingga kemungkinan terjadinya kecurangan akan selalu terjadi. Sistem pengawasan UN tahun ini tetap menggunakan sistem silang penuh. Bahkan pengawasan tidak hanya dari unsur guru saja, namun juga dilengkapi dengan hadirnya TPI (Tim Pemantau Independen) yang berasal dari unsur pendidikan tinggi. Siswa juga tidak diperbolehkan membawa tas ke dalam ruangan, apalagi membawa kertas, handphone, bahkan kotak pensil yang biasanya digunakan sebagai sarana untuk berbuat curang.
Pengamanan naskah soal juga tak kalah ketat. Distribusi soal diawasi ketat oleh polsek dan dispendik setempat. Menurut Kabag Bina Mitra Polwiltabes Surabaya AKBP Sri Rahayu, pihaknya telah menerjunkan 1700 personel untuk operasi Cendekia Semeru 2008 bagi Kota Surabaya dan Sidoarjo. Setiap sekolah akan dijaga oleh lima pesonel tidak berseragam. Sedangkan personel yang berseragam tidak dibatasi jumlahnya (Jawa Pos, 22 April 2008). Namun pada realitanya tetap saja banyak terjadi pelanggaran. Pada hari pertama UN SMA, Selasa (22/4) diketahui ada siswa SMA Panglima Soedirman Surabaya (di SMA Dr. Soetomo Surabaya) ketahuan membawa HP selama mengikuti ujian. Tapi, tidak ada teguran atau peringatan, apalai perbaikan sistem pengawasan. Buktinya, masih banyak siswa yang membawa HP. Wartawan sempat memergoki langsung salah satu siswa peserta UN sedang mengutak-utik HP-nya saat ujian. HP tersebut disimpan dalam kolong meja lalu diambil saat ujian sedang berlangsung, lalu ia mengetik sesuatu dari HP tersebut. Siswa tersebut nampak kaget ketika temannya yang duduk tepat dibelakangnya menepuk punggungnya dan memberinya isyarat bahwa aktivitasnya diamati wartawan dari balik jendela. Sedangkan, saat kepala Dispendik Surabaya sidak ke SMA Trisila Surabaya, ia menemukan pengawas yang sedang membaca koran saat mengawas (Jawa Pos, 23 April 2008).
Celakanya, tidak hanya siswa saja yang melakukan kecurangan, oknum guru bahkan berbuat hal yang sama. Sebagai pendidik tentunya mereka mengerti etika dan tidak membiarkan siswanya berbuat curang apalagi sampai ia sendiri berbuat curang. Membiarkan siswanya berbuat curang saja sudah salah, apalagi guru juga ikut-ikutan berbuat curang. Contohnya, kasus pembetulan lembar jawaban siswa oleh gurunya di SMA Negeri 2 Lubuk Pakam. Dinas Pendidikan Sumut, menerima pengakuan adanya pembetulan lembar jawaban dari pihak SMA 2 Lubuk Pakam. “Mereka tidak percaya diri dengan hasil UN. Lalu mereka dengan terus terang ingin membantu siswanya,” tutur Kepala Sub Dinas Program Dinas Pendidikan Sumut Rosmawati Nadeak. Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Deli Serdang Sofyan Marpaung mengatakan, penyelidikan kecurangan di SMAN 2 Lubuk Pakam dia serahkan ke pihak kepolisian. Sofyan menyayangkan kejadian itu seraya mendukung proses hukum yang sedang berjalan. Di lokasi sekolah, para siswa tidak bersedia dimintai keterangan sedikitpun. Begitupun para guru yang ada di sekolah itu. Kepala Sekolah SMAN 2 Lubuk Pakam Ramlan Lubis menyatakan, langkah guru membetulkan lembar jawaban siswa karena ingin membantu siswa. “Kami kasihan pada mereka (siswa). Saat mengerjakan soal Bahasa Inggris pensil mereka tidak bergerak tanda tidak bisa mengerjakan,” katanya. Ramlan mengatakan, latar belakang orangtua siswa itu umumnya anak petani dan buruh kebun yang tidak mampu. Bagi orang Jakarta, tuturnya, soal UN tidak terlalu sulit. Namun bagi siswa SMAN 2 Lubuk Pakam, katanya, soal Bahasa Inggris itu sangat sulit (Kompas, 25 April 2008).
Lalu ada pula kasus pencurian soal oleh Kasek beserta rekan-rekannya, yang kesemuanya dari SMK PGRI 4 Ngawi (Surya, 21 April 2007). Insiden tersebut semakin memperkeruh citra pendidikan kita. Bagaimana tidak, guru dan Kepala Sekolah yang seharusnya menjadi teladan dan panutan siswa, merencanakan dan melakukan pencurian soal UN secara bersama-sama yang dimaksudkan untuk mengentaskan ketidaklulusan siswa dan mengangkat nama baik sekolahnya tanpa dibarengi dengan usaha-usaha yang jujur. Ironisnya, upaya preventif yang dilakukan pengawas untuk mencegah kecurangan malah diartikan sebagai penghambat prestasi siswa. Apabila kita melihat kembali kasus pengroyokan oleh para siswa SMA 2 Tanggul Jember pasca UN pada pengawasnya Sri Handayani dari SMA 1 Tanggul Jember (Jawa pos, 19 April 2007). Kejadian ini dilatar belakangi oleh ketatnya penjagaan UN oleh pengawas. Keketatan ekstra dalam pengawasan UN ini memunculkan kekesalan siswa yang membuat mereka mengamuk dan memecahi kaca. Sebenarnya yang dilakukan oleh Sri Handayani salah satu pengawas, sangat baik. Karena ia menjalankan tugas sesuai prosedur termasuk cara pembagian soal, absensi peserta UN dan pengawasan yang sportif. Akan tetapi, dibalik kedisiplinan itu tidak dilandasi dengan jiwa yang ikhlas, melainkan karena persaingan ketat antara SMA 1 dan SMA 2 Tanggul sehingga guru SMA 1 mengawasi SMA 2 dengan berlebihan (Surya, 20 April 2007). Bukan dari nurani seorang guru yang mencerdaskan, tapi malah melemahkan. Dan mungkin masih banyak kericuhan-kericuhan yang belum tercover dalam media.
Namun, tidak semua pengawas “tidak jujur”. Ada juga yang masih peduli pada kejujuran dan masih memiliki hati nurani. Para guru yang tergabung dalam Komunitas Air Mata Guru misalnya, meski mendapat intimidasi, nekad membuka kecurangan UN itu ke publik. Untuk mengantisipasi ancaman itu, perwakilan mereka mendatangi Komnas HAM di Jakarta, Selasa (Suara Islam, 8 Mei 2007). Mereka meminta perlindungan Komnas HAM, menyusul adanya intimidasi dan ancaman akibat mengungkap kecurangan dalam pelaksanaan UAN di kota Medan dan sekitarnya. Menurut Koordinator Komunitas Air Mata Guru Medan, Denni B Saragih, banyak anggota komunitas ini yang mendapat tekanan dari berbagai pihak untuk mencabut laporan yang diberikan para guru atau membuat pernyataan bahwa apa yang dilaporkan adalah palsu. (Suara Islam, 20 Juni 2007)
Sungguh aneh, kejujuran, keikhlasan dan hati nurani malah diperlakukan seperti “virus” yang harus segera dimusnahkan. Malah “kejahiliyahan” semakin merajalela dan semakin merasuki sanubari bangsa Indonesia. Tak heran, sistem pendidikan dan sistem evaluasi pendidikan yang diterapkan dewasa ini, hanya membentuk manusia yang buta hati nurani, mati rasa kemanusiaannya, bermental pengecut dan pencuri, serta tidak peka pada sekitarnya.
Mari Benahi Sistem
Sesuai UU No.20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XVI pasal 57 ayat 2, evaluasi dilakukan kepada peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan informal untuk semua jenjang, satuan dan jenis pendidikan, sedangkan pasal 58 ayat 1, evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses kemampuan dah perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan dan pasal 1 ayat 17 standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah NKRI.
Di sinilah permasalahan pendidikan di Indonesia, yaitu terjadinya kerancuan standardisasi kelulusan. Kelulusan hanya ditentukan oleh 6 materi Ujian Nasional, sedangkan, materi lain, proses, keaktifan dan intelektual serta minat-bakat khusus siswa tidak dinilai, akan memunculkan materi lain dianggap tidak perlu, sedangkan materi lain tersebut merupakan faktor penting dalam menumbuhkembangkan intelektualitas yang bermoral dalam mencapai tujuan pendidikan nasional sebagai mana amanat pembukaan UUD 1945. Padahal, penguasaan materi tersebut tidak menjamin tercapainya kesuksesan pendidikan. Seharusnya ada perbaikan yang fundamental terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Bukan sekedar perubahan kurikulum semata, tapi harus mencakupnbanyak hal−yaitu perubahan budaya, tujuan, dan sistem evaluasi pendidikan.
Pertama, pendidikan sejatinya bukan hanya permasalahan benar-salah, bisa atau tidak. Namun lebih spesifiknya, pendidikan seharusnya dapat membangun, membina, dan menghasilkan manusia yang utuh. Para guru seharusnya dapat membimbing siswanya untuk mengaktualisasikan dirinya, mampu mengenali potensi serta kelemahannya, serta membantu mengembangkan potensi dan menerima kelemahannya dengan lapang dada. Ketika siswa dapat mengkonstruksikan konsep dirinya, maka ia akan mudah mengembangkan potensinya. Guru memiliki kewajiban untuk membimbing siswanya membentuk penerimaan terhadap diri (self-acceptance) dan harga diri (self esteem). Rasa harga diri sebagai hasil penilaian diri misalnya dapat berupa: saya siswa paling pandai di kelas, saya disenangi oleh teman, saya anak yang selalu sukses mengatasi masalah, dan sebagainya (Cawagas, dari Pudjijogyanti, 1995). Konsep diri merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam berinteraksi sosial sebab seseorang memiliki kecenderungan untuk berperilaku sesuai konsep dirinya (Rakhmat, 1998). Untuk membantu siswa mengembangkan itu semua, diperlukan kasih sayang yang mendalam, sehingga siswa mengenali gurunya sebagai figur yang menyenangkan. Bukan figur yang suka menuntut dan otoritatif.
Kedua, pendidikan Indonesia, sebagai mana pernah disampaikan pakar pendidikan Arif Rahman, akhirnya membuat kita sibuk dengan dengan nilai, sibuk dengan gelar, sibuk dengan kurikulum yang sudah fixed. Kita tidak disibukkan dengan hati nurani lagi. Pendidikan yang berbasis hati nurani bukan yang mengajarkan konsep hati nurani, namun yang yang benar-benar membimbing, melatih dan memaknai esensi hati nurani yang hidup dan tercermin nyata dalam perilaku sehari-hari. Praktik-praktik meditasi dapat pula digunakan sebagai sarana pembersihan hati nurani. Sehingga, setelah pembersihan ini tercapai, maka pikiran (kognisi) akan senantiasa tercerahkan. Pikiran dan tindakan akan terkontrol oleh hati nurani. Nafsu juga ada diantaranya, namun nafsu akan ikut tercerahkan.
Ketiga, perlu adanya evaluasi pada sistem evaluasi pendidikan yang telah berjalan selama ini. Alangkah baiknya, wewenang penilaian dikembalikan lagi kepada pihak sekolah sesuai yang diamanat dalam UU No.20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XVI pasal 58 ayat 1 dengan pertimbangan, sekolah dan gurulah yang paling mengetahui kemampuan dan karakter peserta didik. Sehingga, rasa rendah diri siswa, persaingan tidak sehat antar sekolah, serta beban psikologis yang dialami siswa dan guru, yang dapat menjerumuskan mereka dalam kecurangan, sedapat mungkin dihindari. Penilaian dari satu aspek saja (kognitif) sungguh merugikan siswa. Sangat tidak adil apabila kelulusan siswa hanya diukur dari tingkat kecerdasan an sich mereka saja. Sehingga perlu adanya sistem penilaian yang dapat mencakup multiaspek (psikomotorik yang diwujudkan dengan tindakan yang praxis, afektif, minatbakat, serta keaktifan saat proses pembelajaran) yang sebenarnya sangat perlu untuk diapresiasi.
Ketiga, perlu adanya konsistensi tindakan dari berbagai pihak, terutama guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat, atas sistem yang sudah mapan ditetapkan. Selain konsistensi, elemen-elemen tersebut wajib berpartisipasi secara aktif dalam mengawasi dan mengevaluasi sistem pendidikan dan penilaian yang telah ada.
Keempat, perlu adanya perubahan paradigma dan budaya dalam masyarakat. Siswa yang tidak lulus atau tidak naik kelas bukan berarti bodoh atau nakal, tetapi memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk memahami dan memaknai apa yang sedang ia pelajari. Sehingga, tidak ada tekanan psikologis atau trauma pada anak-anak yang tidak lulus ujian. Jika kita menilik lagi kebelakang, pemikiran tokoh-tokoh pendidikan seperti YB Mangunwijaya dan Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan investasi terbesar bagi terbentuknya peradaban sebuah bangsa. Tak mungkin suatu bangsa akan bergerak maju apabila pendidikannya tidak berkualitas. Setiap bangsa yang besar selalu ditopang dengan sistem pendidikan yang berkualitas. Apabila bangsa ini tidak segera memperbaiki sistem pendidikannya, tentunya Indonesia selamanya tidak akan pernah keluar dari keterbelakangan. Tentunya, misi ini memerlukan itikad baik dan niat tulus dari berbagai pihak serta semangat untuk segera menyongsong masa depan yang lebih baik.
Ditulis dengan semangat 100 tahun Kebangkitan Nasional
Didedikasikan untuk seluruh agen perubahan yang sedang berjuang membawa
bangsa ini keluar dari keterpurukannya
Selamat Berjuang!
aku berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai ketenangan untuk menerima hal-hal yang tak dapat kuubah,
keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah,
dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan diantara keduanya
*Albert Camus
Sejarah Eropa yang terkenal kelam, tak dinyana malah melahirkan banyak pemikir (yang diakui) cerdas dan banyak berpengaruh pada hegemoni intelektual. Tentunya hal ini menjadi tanda tanya besar bagi kaum non-eropa. Apakah bangsa Asia kurang cerdas? Apakah orang orang Afrika semuanya bodoh? Ataukah orang (asli) Amerika tidak memiliki kapasitas intelektual yang tinggi? Sebenarnya, orang-orang timur patut berbangga. Kaum Rasionalis Barat yang selalu dipuja-puja karena “kerasionalannya” ternyata bisa tidak rasional juga. Namun sebaliknya, orang orang bijak dari timur yang biasanya diejek karena keirasionalannya, malah bisa berdalih, “Siapa bilang hanya saya yang nggak rasional. Orang barat juga bisa tuh..”
Mengapa?
Mari kita tengok kembali masa 1960an. Masa dimana seorang irasional bernama Abraham Maslow dan Carl Rogers yang tiba-tiba (secara irasional) mencoba mendobrak kemapanan yang bernama Psikologi Materialisme, yang telah bercokol dan menduduki tahtanya selama berpuluh-puluh tahun di barat.
Kaum Kaukasian Eropa, seperti yang tak diduga banyak orang, sebenarnya berangkat dari mistisme. Yang juga (sebenarnya) sempat hidup ‘damai’ dalam naungan spiritualitas dogmatis Gereja Katolik, yang namun pada akhirnya, Gereja Katolik kehilangan kewibawaannya karena dianggap sebagai oknum yang paling bertanggung jawab atas kehancuran bangsa Eropa, dan menjerumuskannya dalam Abad Kegelapan. Orang-orang Eropa sempat hidup beratus-ratus tahun dengan kebiasaan-kebiasaan Okultisme, tradisi Kabbalah (yang banyak muncul di daerah Prancis Selatan), bahkan kajian-kajian Esoteris yang seakan-akan dianggap tabu (karena bentrok dengan budaya positivistik) ternyata banyak menarik perhatian pemikir barat. Salah satunya adalah Carlos Castaneda. Seorang mahasiswa program postgraduate Antropologi UCLA yang menulis tesis tentang ilmu gaib dan perdukunan, yang sempat ‘dinobatkan’ menjadi Tuhan oleh pemuja fanatiknya. Namun konyolnya, tiga buku yang ia tulis sebagai follow up dari tesis yang ditulisnya, malah menjadi buku teks mahasiswa Antropologi di berbagai universitas di Amerika Serikat (Graham, 2005:63).
Ajaibnya, pada tahun 1700an, muncullah seorang filsuf yang ‘petenteng-petenteng’ ingin memurnikan ajaran-ajaran filsafat yang selama ini bergelut dengan metafisika. Ia adalah Henry Saint-Simon dengan seorang muridnya yang fanatik, Auguste Comte. Dengan berapi api, mereka seakan ingin berteriak kepada seluruh penjuru dunia, bahwa tak ada ilmu pengetahuan tanpa observasi dan operasionalisasi. Auguste Comte juga kembali menegaskan pernyataan gurunya dengan berpendapat bahwa ilmu pengetahuan harus seluruhnya dimurnikan dari kajian-kajian metafisika dan teologis yang dianggapnya ‘tidak ada’ dan ‘tidak nyata’. Dengan demikian, berhasillah mereka menancapkan paham materialisme didalam benak para ilmuwan di seluruh dunia. Bahkan dapat kita rasakan dampaknya hingga saat ini…
Psikologi modern, mau tak mau, tetap terkena imbasnya. Kemunculan mahzab Behaviorisme di Rusia dan Amerika sebagai contohnya. Kemudian dilanjutkan pula dengan mahzab Psikoanalisa (walaupun sempat diperdebatkan banyak pihak, ilmiah atau tidak ilmiah). Kedua aliran ini pada dasarnya sama, memandang manusia dari kacamata patologis serta pandangan pesimisnya terhadap eksistensi manusia.
Namun akhirnya, dua psikolog asal Amerika Serikat, yakni Abraham Maslow dan Carl R. Rogers, tiba-tiba saja menentang (bahkan mengecam) kedua aliran yang telah sebelumnya mapan ini. Mereka berpendapat, pandangan Psikoanalisa dan Behaviorisme terhadap manusia amat deterministik dan mengurangi nilai eksistensi manusia sebagai makhluk yang paling sempurna penciptaannya. Pemikiran ini bertindak lanjut pada berdirinya suatu mahzab baru yang dinamai Psikologi Humanistik. Awal mula berdirinya pemikiran humanistik pada masa pra Positivisme sebenarnya dari filsafat aliran orientasi humanistik yang dimotori oleh Anaxagoras (488-428 SM) dan Socrates (470-399 SM). Keduanya bersepakat menempatkan manusia sebagai ‘level tertinggi’ daripada aspek kehidupan yang lain, serta menegaskan bahwa karakter yang dimiliki oleh seorang manusia membuatnya berbeda dengan manusia yang lain (aspek keunikan manusia).
Lalu dilanjutkan kembali oleh pemahaman Voluntarisme yang digaungkan oleh St Agustinus, yang intinya, manusia berhak memutuskan will atau kehendaknya sendiri. Namun, seperti yang telah dibahas sebelumnya, filsafat positivistik seakan ‘membunuh’ pemikiran humanistik. Hal ini ditandai dengan munculnya gerakan psikologi materialisme yang ditabuh oleh John B. Watson (behaviorisme) dan Psikoanalisa yang digawangi oleh Sigmund Freud, yang akhirnya mengusai jagad Psikologi hingga puluhan tahun. Segala macam gerakan yang memfokuskan diri pada aktivitas mental yang cenderung humanis dan antroposentris pasti tidak akan berkembang. Salah satu korbannya adalah gerakan Gestalt yang dimotori oleh Max Wertheimer, yang sempat ‘dijual’ di Amerika namun ‘tidak laku’ karena ‘kalah laku’ dengan aliran Behavioristik yang sudah lebih dulu berkembang di Amerika. Apalagi saat itu, publik Amerika sedang ‘mabuk kepayang’ dengan positivisme radikal Skinner. Namun, pasca Perang Dunia ke II dan Perang Dingin antara 2 negara adidaya saat itu, warga dunia yang mulai lelah dengan perang menginginkan adanya suatu perubahan yang signifikan pada segala bidang kehidupan, tak terkecuali Psikologi yang juga terkena imbasnya. Apalagi saat itu, ada tendensi kembali ‘ngetrennya’ filsafat Epicureanisme, yang memahami hidup sebagai ‘yang terjadi pada saat ini’ dan cenderung hedonis. Sehingga, tidak sedikit yang berpendapat bahwa sistem-sistem tradisional pada masyarakat barat sudah seharusnya ditinggalkan karena sudah ketinggalan zaman. Akibatnya, banyak standar moral mulai diturunkan dan sistem-sistem pendidikan mulai ditinggalkan (Naranjo dalam Graham, 2005:53)
Lalu muncullah suatu gebrakan baru dalam filsafat yang bernama Eksistensialisme yang dimotori oleh beberapa filsuf. Diantaranya adalah Kierkegaard, Hegel, Marx, Nietzche, Heiddeger, dan Satre, yang intinya mencoba mengambil situasi eksistensial manusia sebagai titik tolak kehidupan. Dan menegaskan bahwa tidak ada alam yang sebanding dengan alam subyektivitas manusia.
Psikologi Humanistik didasari keyakinan bahwa manusia adalah wujud yang tunggal yang tiada bandingannya. Sesuai karakteristik inilah terapi yang harus dilakukan para psikolog dan psikater kepada manusia. Kaum humanis meyakini bahwa setiap individu bertanggung jawab atas kehidupan dan perbuatannya, dan bahwa dalam setiap zaman manusia bisa mengubah pendapat dan perilakunya melalui pengetahuan dan kehendak yang inovatif. Para psikolog humanis menaruh minat kepada perkembangan individual yang paling sempurna dalam berbagai wilayah kecintaan, perbuatan, penilaian diri sendiri (self worth), dan kemerdekaan mentalitas. Menurut perspektif ini, pertumbuhan dan kematangan dipandang sebagai proses dimana pribadi seseorang terbentuk dan akan mengikuti tatanan nilai-nilainya sendiri.
Pada dasarnya, inti-inti ajaran dan metode yang digunakan psikolog humanistik, banyak terpengaruh dari filsafat ketimuran (yang sering dinilai tidak rasional oleh orang barat), filsafat eksistensialisme (yang begitu ‘narsis’ dengan ‘kemanusiaannya’), gaya hidup hedonis yang banyak berkembang pada tahun 1960an, dan kekecewaan banyak psikolog dengan ‘kebutaan psikologi barat’ yang seakan-akan ‘memesinkan manusia’. Pergerakan Psikologi Humanistik sebagai mahzab ketiga ternyata berhasil ‘mendudukkan’ kodrat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna penciptaannya, namun gagal menjelaskan kodrat manusia sebagai makhluk yang hina (bahkan kadang-kadang lebih hina daripada binatang sekalipun. Contohnya, munculnya perilaku disorientasi seksual, serta perilaku-perilaku agresif yang ekstrim, seperti membunuh, mencuri, dan lain-lain).
Sehingga dapat penulis simpulkan bahwa mahzab humanistik bukanlah penjelasan yang terbaik mengenai manusia, namun Psikologi Humanistik telah berhasil melengkapi penjelasan Psikoanalisa dan Behaviorisme yang telah ada dan mapan terlebih dahulu.
Suatu saat, hati nurani bertanya pada seorang mahasiswa fakultas sosial yang duduk di bawah pohon di pojokan kampusnya, di siang bolong yang panas.
“mengapa diam saja?”
“memangnya untuk apa aku berbuat?”
“bodohnya dirimu, tak ada otakkah kau? Tak lihat kondisi dunia yang morat-marit beberapa abad terakhir ini? Tak inginkah kau melakukan sesuatu yang berarti?”
“berarti untuk siapa? Ah..tak perlulah sok idealis begitu. Di era kapitalis begini, mana ada orang yang mau memikirkan sesuatu selain dirinya sendiri?”
“seandainya semua mahasiswa berpikiran picik seperti dirimu, tak akan selamat negeri ini. Jurang kehancuran sudah pasti di depan mata”
“sepertinya, aku tak peduli. Toh, pasti ada satu-dua orang yang mungkin tak sependapat denganku, yang masih mau membuang waktunya untuk pekerjaan yang melelahkan dan tak ada gunanya, at least untuk dirinya sendiri. Lagipula, aku kuliah bukan untuk menghabiskan waktuku untuk kegiatan percuma semacam itu. Aku ingin segera lulus dan bekerja, punya istri yang cantik, punya anak-anak yang manis, dan uang yang banyak…”
“lalu orang-orang bernasib malang disekitarmu? Apa kau tega membiarkan mereka membusuk karena ketidak berdayaan mereka?”
“tetap tak peduli, dan itu bukan salahku. Itu salah mereka sendiri.”
“cih..tak punya hati nuranikah kau?”
“lha? Lalu siapa yang sekarang sedang kuajak bicara? Hahahahahaha…”
Tak lama, ia berdiri. Kehausan. Mencarilah ia warung di dekat-dekat situ. Ingin sekedar berlindung dari panas matahari yang kian terik, ingin bersembunyi dari cecaran hati nuraninya sendiri.
“Shalatlah, sudah masuk waktu Dhuhur”
“Shalat? Apa kau gila? Memangnya siapa yang akan kusembah?”
“Allah Tuhan Yang Maha Tinggi, lupakah kau dengan penciptamu? Dasar manusia bodoh yang tak tahu diri!”
“alaaahhh..diam kau! Memangnya Tuhan seperti apa yang harus kusembah? Tuhannya Marx? Atau Tuhannya Adam Smith? Tuhannya kaum Babilon, Mesir Kuno, atau orang Yahudi? Atau malah aku harus menyembah diriku sendiri, seperti anjuran penganut eksistensialis? Bukan aku yang gila, tapi KAU. Tuhan ada banyak macamnya, aku bingung mana yang harus kusembah. Salahkah?”
“Salah. Jelas salah. Sekarang coba kau pikir, mungkinkah dunia dan seluruh isinya ini tercipta dengan sendirinya? Ojo ngarang dul, mbok pikir sulapan ta? PIKIRKAN! Bahkan seorang ilmuwan biologi yang evolusionispun tak sanggup menjelaskan asal-usul dunia apabila memakai mantra KEBETULAN! Bahkan sebuah sel hidup memiliki struktur yang rumit dan tak mampu ditiru oleh manuisia! kamu tahu? Analogi dari terciptanya sebuah sel hidup dari kumpulan benda mati dan mantra kebetulan adalah, sebuah pesawat boeing 737 yang terbentuk dari kumpulan sampah yang diterpa gulungan tornado. INI HANYA SEBUAH SEL, bagaimana dengan menciptakan manusia dengan kumpulan 3 MILYAR SEL?? Dengan memakai akal yang selalu kau banggakan, MUNGKINKAH? Ia adalah realitas diluar realitas. Mungkinkah meja ada tanpa tukang kayu yang membuatnya?”
“bodoh, kata Freud, manusialah yang menciptakan Tuhan. Tuhan ada karena ketidak berdayaan manusia menangani hidupnya”
“SEKALI LAGI pikirkan! Mungkinkah ada meja tanpa ada tukang kayu yang membuatnya? Apa pantas apabila meja mengaku-ngaku sebagai si mahakuasa yang menciptakan tukang kayu? LEBIH substantif yang mana? Dasar bodoh, berpikir benarpun kau tak mampu, padahal gelarmu mentereng. Membuat orang yang tak berduit merasa pahit : MAHASISWA!”
Pemuda itu tiba-tiba mengeratkan tali ranselnya, urung pergi ke warung. Memutar jalan ia akhirnya. Bersiap menuju masjid terdekat.
“lalu mengapa tiba-tiba kau berubah pikiran?”
“kupikir, kau ada benarnya”
Hati nurani mendesah, gelisah pikirannya. Tak habis dirinya menghitung, berapa banyak pemuda yang tercerabut hati nuraninya. Yang terlilit oleh kepandaiannya sendiri. Ironis! Kemajuan peradaban malah membuat pelakunya semakin dicengkeram keegoisan dan kebobrokan moral. Berapa banyak lagi. Ia tak sanggup menghitung.
pertama kali domain site ini masuk ke dalam memory episodicQ..
mudah2an bisa istiqamah buat nulis disini..ntar klo lagi mood nulis,
tak publish di multiplyQ juga..
*13.10.2008



komentar terakhir